Rabu, 16 April 2014

Tren Topic/Busana Muslim Hot



 Bismillah

Awal 2013 lalu (kalau gak salah), para perempuan berkerudung gonjang-ganjing. Jilbab style merajalela di Ibu Pertiwi. Bukan hanya di Ibukota, tapi mampu merambah ke berbagai kota terpencil juga. Fenomena itu bukanlah hal yang biasa, karena hal itu mengguncangkan ketertiban umat islam itu sendiri di Indonesia.

Sebenarnya bukan hal mengejutkan lagi jika banyak kalangan yang mempermasalahkan bagaimana berjilbab syar’I dan bukan Syar’i. Tapi sekarang ini ternyata lawan dari jilbab yang menutup dada adalah jilbab belit-belit. Saya bingung menyebutnya apa.
Tentu anda mengerti maksud saya bukan? Jilbab yang saya maksud adalah pashimna yang dipakai dengan cara membelitkannya kesana kemari hingga tampak seperti kepala dibebat kain, juga tragedi punuk unta yang bisa meninggi sampai setengah meter (lebay). Juga tutup kepala berbentuk ciput yang biasa emak pakai ke sawah, mereka katakana itu jilbab.

banyak orang yang membodohkan dirinya sendiri mengatakan jilbab yang berbelit-belit itu jilbab Syar’I, dan mereka mengatakan bahwa jilbab yang dipakainya itu Hijab. Wealah... kasihan sekali mereka ini. sudah jelas sekali bahwa hijab itu artinya penghalang. Lalu pakaian panjang berbahan spandek yang masih memperlihatkan bentuk dada dan pinggul seorang wanita itu dinamakan hijab? Subhanallah, betapa kasihannya saya pada mereka.

Fenomena itu membuat pro-kontra di berbagai media, bukan tidak banyak orang-orang tv menjadikan topic itu sebagai hot topic dalam pembicaraan mengenai Islam. Dan orang-orang itu berkilah, tetap pada definisi hijab yang ia yakini. Meski para ustadz dengan segamblangnya berkata hal itu beda.

Mungkin hal itu karena para desainer kondang yang menyuarakan Hijab Syar’I tidak mau rugi. Jadi mereka mendokrit banyak kepala atas uraian itu, ya supaya toko mereka terus dimasuki pengunjung dan omsetnya selalu naik. Tak ada salahnya memang, karena semua orang punya hak untuk berbuat semau mereka.

Sebenarnya dengan tulisan ini tidak bermaksud menghujat siapapun, Mengingat saya juga termasuk perempuan yang di dlamanya. Malah justru saya ingin menyampaikan kabar gembira kepada para pendakwah, bahwa mungkin salah satu katanya berhasil direkam oleh seorang desainer.

Dalam kolom ‘Ragam’ majalah UMMI terbitan  April 2014, menyebutkan bahwa gelaran fashion terbesar di Tanah Air yaitu Fashion Week 2014 membawa embusan tren terbaru dari para desainer. Terutama busana muslim yang digadang-gadang Indonesia menjadi kiblat fashion muslim pada tahun 2025. Menakjubkan bukan? 

Menurutnya (Editor majalah UMMI.red), ada salah satu stand yang berhasil mencuri perhatian para parade busana Muslim di IFW 2014. Adalah Sisesa dai House of Merry Pramono.

“Sisesa menampilkan koleksi terbarunya ‘Romantic Pastel’ berupa satu setel gaun longgar dengan ruffles dan layer yang menyamarkan bentuk tubuh, plus kerudung yang terulur panjang.” Begitu ulasannya.

 By google

“Seiring bertambahnya ilmu agama, kami jadi semakin paham busana Muslimah yang sesuai syariat tuntunan Islam itu seeprti apa. Makanya kami berhijarah mendesain busana yang syar’I sekarang.” Ujar Siriz Tentani ( Sales Marketing Sisesa Clolothing) ketika diwawancarai. Bahkan Sisesa saat itu mendiskon koleksi baju-baju lamanya. Kini mereka intin mengubah konsep untuk hanya menjual baju-baju yang syar’I saja.

Dari ulasan di atas membuat hati saya bersyukur. Jika ada salah satu desainer yang membuat desain baju yang syar’I bukan tidak mungkin desainer yang lain melirik pasar ini. Dan bukan tidak mungkin juga, masyarakat kelas menengah atau bawah memproduksi pakaian dengan desain yang sama. Mengingat para pedagang biasanya mengikuti style yang menjadi hot topic, lalu menjualnya di took mereka. Hematnya, lambat laun pakaian tidak syar’I yang dibilang syar’I itu akan musnah. Tergantingan dengan pakaian longgar dan jilbab terulur ke dada itu.

Tapi hal ini juga masih menjadi PR bagi para pendakwah muslim, setelah mereka berhasil membetulkan tentang jilbab Syar’I yang longgar dan menutupi dada. Kini mereka harus memperjuangkan satu hal lagi, bahwa muslimah berjilbab itu tidak tabarujj dan tidak berlebih-lebihan. Karena hakikatnya pakaian seorang muslim adalah kesederhanaan.

Wallahu a’lam

Terima Kasih

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Ulasan yang menarik,, good job!

Posting Komentar