Bismillah
Awal 2013 lalu (kalau gak salah), para perempuan berkerudung
gonjang-ganjing. Jilbab style merajalela di Ibu Pertiwi. Bukan hanya di
Ibukota, tapi mampu merambah ke berbagai kota terpencil juga. Fenomena itu
bukanlah hal yang biasa, karena hal itu mengguncangkan ketertiban umat islam
itu sendiri di Indonesia.
Sebenarnya bukan hal mengejutkan lagi jika banyak kalangan
yang mempermasalahkan bagaimana berjilbab syar’I dan bukan Syar’i. Tapi sekarang
ini ternyata lawan dari jilbab yang menutup dada adalah jilbab belit-belit. Saya
bingung menyebutnya apa.
Tentu anda mengerti maksud saya bukan? Jilbab yang saya
maksud adalah pashimna yang dipakai dengan cara membelitkannya kesana kemari
hingga tampak seperti kepala dibebat kain, juga tragedi punuk unta yang bisa
meninggi sampai setengah meter (lebay). Juga tutup kepala berbentuk ciput yang
biasa emak pakai ke sawah, mereka katakana itu jilbab.
banyak orang yang membodohkan dirinya sendiri mengatakan
jilbab yang berbelit-belit itu jilbab Syar’I, dan mereka mengatakan bahwa
jilbab yang dipakainya itu Hijab. Wealah... kasihan sekali mereka ini. sudah
jelas sekali bahwa hijab itu artinya penghalang. Lalu pakaian panjang berbahan
spandek yang masih memperlihatkan bentuk dada dan pinggul seorang wanita itu
dinamakan hijab? Subhanallah, betapa kasihannya saya pada mereka.
Fenomena itu membuat pro-kontra di berbagai media, bukan
tidak banyak orang-orang tv menjadikan topic itu sebagai hot topic dalam
pembicaraan mengenai Islam. Dan orang-orang itu berkilah, tetap pada definisi
hijab yang ia yakini. Meski para ustadz dengan segamblangnya berkata hal itu
beda.
Mungkin hal itu karena para desainer kondang yang
menyuarakan Hijab Syar’I tidak mau rugi. Jadi mereka mendokrit banyak kepala
atas uraian itu, ya supaya toko mereka terus dimasuki pengunjung dan omsetnya
selalu naik. Tak ada salahnya memang, karena semua orang punya hak untuk
berbuat semau mereka.
Sebenarnya dengan tulisan ini tidak bermaksud menghujat
siapapun, Mengingat saya juga termasuk perempuan yang di dlamanya. Malah justru saya ingin menyampaikan kabar gembira kepada para
pendakwah, bahwa mungkin salah satu katanya berhasil direkam oleh seorang
desainer.
Dalam kolom ‘Ragam’ majalah UMMI terbitan April 2014, menyebutkan bahwa gelaran fashion
terbesar di Tanah Air yaitu Fashion Week 2014 membawa embusan tren terbaru dari
para desainer. Terutama busana muslim yang digadang-gadang Indonesia menjadi
kiblat fashion muslim pada tahun 2025. Menakjubkan bukan?
Menurutnya (Editor majalah UMMI.red), ada salah satu stand
yang berhasil mencuri perhatian para parade busana Muslim di IFW 2014. Adalah Sisesa
dai House of Merry Pramono.
“Sisesa menampilkan koleksi terbarunya ‘Romantic Pastel’
berupa satu setel gaun longgar dengan ruffles dan layer yang menyamarkan bentuk
tubuh, plus kerudung yang terulur panjang.” Begitu ulasannya.
By google
“Seiring bertambahnya ilmu agama, kami jadi semakin paham
busana Muslimah yang sesuai syariat tuntunan Islam itu seeprti apa. Makanya kami
berhijarah mendesain busana yang syar’I sekarang.” Ujar Siriz Tentani ( Sales
Marketing Sisesa Clolothing) ketika diwawancarai. Bahkan Sisesa saat itu
mendiskon koleksi baju-baju lamanya. Kini mereka intin mengubah konsep untuk
hanya menjual baju-baju yang syar’I saja.
Dari ulasan di atas membuat hati saya bersyukur. Jika ada salah
satu desainer yang membuat desain baju yang syar’I bukan tidak mungkin desainer
yang lain melirik pasar ini. Dan bukan tidak mungkin juga, masyarakat kelas
menengah atau bawah memproduksi pakaian dengan desain yang sama. Mengingat para
pedagang biasanya mengikuti style yang menjadi hot topic, lalu menjualnya di took
mereka. Hematnya, lambat laun pakaian tidak syar’I yang dibilang syar’I itu
akan musnah. Tergantingan dengan pakaian longgar dan jilbab terulur ke dada
itu.
Tapi hal ini juga masih menjadi PR bagi para pendakwah
muslim, setelah mereka berhasil membetulkan tentang jilbab Syar’I yang longgar
dan menutupi dada. Kini mereka harus memperjuangkan satu hal lagi, bahwa muslimah
berjilbab itu tidak tabarujj dan tidak berlebih-lebihan. Karena hakikatnya
pakaian seorang muslim adalah kesederhanaan.
Wallahu a’lam
Terima Kasih

1 komentar:
Ulasan yang menarik,, good job!
Posting Komentar