“Makanya jangan tidur mulu, kerja yang bener
biar bisa minum kopi setiap pagi. Duit sehari cuma dikasih lima puluh ribu, mau
dapet apa uang segitu zaman sekarang hah?” perempuan berperut tambun dengan
rambut keriting itu pun berkata sambil lalu.
Pun setelah berada diluar ia melanjutkan
ocehannya,“ Liat aja tuh Pak Darman, umur udah tua tapi narik tetep dari pagi
sampe malem. Gak heran istrinya punya gelang emas banyak.”
“Yaelah… gue ngomong cuma sebaris, lu yang
jawab kayak jalan tol. Kagak ada berentinye. Kalo udeh kagak ada duit ngomong
yang alus, gak usah nyerocos kayak gitu. Gak enaklah didenger tetangga.” Kini
giliran Bang Ali angkat suara. Untung saja Fadli sudah berangkat sekolah,
sehingga dia tidak harus mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
Adakalanya para tetangga menganggap
pertengkaran mereka adalah percakapan biasa antara suami dan istri, mengingat
mereka hampir melakukan hal itu disetiap pagi.
“Min, kopi gue mana Min?” itulah kalimat
sederhana yang Bang Ali sampaikan pada istrinya. Bagi Bang Ali, kopi pagi
adalah sarapan yang bisa ia nikmati. Karena kenikmatannya bisa menahan lapar
hingga siang nanti, jadi ia tak harus membeli lontong sayur atau nasi uduk
untuk sarapan.
Istrinya tak banyak peduli, jika jatah uang
kurang ya kopi pun tidak ada. Mpok Minah
juga tidak memerhatikan bahwa sebenarnya Bang Ali baru tidur jam dua
malam karena harus membantu pak Kadin membetulkan gerbang rumahnya. Meskipun kantuk
masih merajai, tapi Bang Ali harus bangun jam enam supaya Mpok Minah tidak
mengomel lagi.
Tapi ternyata sia-sia, pagi ini Bang Ali masih
dapat semprot juga. Karena itu, Bang Ali lebih memilih keluar rumah dan memulai
aktifitas menjadi supir angkutan umum.
“Dasar istri gak tau diuntung. Tarikan lagi
sepi bukannya ngedo’a ini malah ngomel mulu. Orang mau leha-leha bentar ini
malah diusir, tau rasa tar dia kalo gue tinggalin.” Ucap Bang Ali lirih sambil
menstater mobilnya.
_oOo_
“Neng, sampe sini aja ya.”
“Gak sampai depan Bang?”
“Abangnya mau sarapan dulu nih di warung itu,”
tunjuk si sopir pada sebuah warung berbilik bambu itu. “Maaf ya. Tinggal jalan
bentar ini, noh keliatan kok gangnya.”
“Yaudah deh Bang, nih ongkosnya.” Perempuan berkerudung
cokelat itu turun dari angkot, memang hanya dirinyalah yang menjadi penumpang
mobil kijang tua itu. “Baru sarapan bang? Inikan udah jam 11.”
Pria dibalik kemudi itu menjawab dengan
cengiran. “Yah… kita mah kerja dulu baru bisa makan Neng. Ini kembalinnya.”
Uang satu lembar dua ribuan ia sodorkan.
“Haha… bisa aja Bang. Makasih ya...”
“Ya Neng…” Mobil angkutan itu kembali berjalan,
membuat tanda pengenal yang bertuliskan Ali Sanusi bergoyang-goyang mengikuti
laju mobil.
Sedangkan perempuan berkerudung cokelat itu
tenggelam dalam pemikirannya, sambil
menulusuri gang sempit ke arah rumah sang kakak. Percakapan dirinya dengan supir
angkot itu membuat ia berfikir, betapa tidak bersyukurnya ia.
Tadi pagi Nina disiapkan sarapan berupa nasi
goreng lengkap dengan telur mata sapi, tapi ia menolak menu makanan yang Ibunya
siapkan. “Aku ingin roti bakar selai kacang Bu…” Rajutnya kala itu. Kemudian ia
meninggalkan meja makan dan pergi keluar tanpa mengucap maaf atau terima kasih
pada Ibunya sendiri.
“Astagfirullah…” Ucapnya lirih.
Dan Nina sudah sampai di depan sebuah pintu
kayu bercat coklat. Beberapa ketukan pintu dan ia akan bertatap wajah dengan
kakak yang sudah lama ia tak kunjungi.
Satu, dua, bahkan berkali kali, pintu itu tak
terbuka. Nina mencoba memanggil dan memberikan salam. Tetap seperti itu,
tertutup dan terkunci. Apakah kakaknya sedang berada di luar rumah? Tapi ia
melihat jendela di samping pintu, terbuka.
“Assalamualaikum kak…??”
Dua, lima, bahkan lebih dari sepuluh menit, tak
ada tanda-tanda ada orang di dalam rumah. Nina berfikiran untuk pulang, mungkin
tadi Shinta lupa menutup jendela saat ia hendak pergi keluar. Baru saja Nina
berbalik, pintu yang dibelakangnya telah terbuka. Sosok perempuan yang telah
lama ia kenal berdiri disana.
“Nina, kamu mau kemana?” ucap perempuan di
ambang pintu itu.
“Kakak…” Nina menghambur ke pelukannya. “Kenapa
lama banget, Nina dari tadi tau.”
“Kakak tadi lagi di belakang, gak denger. Maaf
ya…” tangan putih itu membelai pucuk kepala adiknya. Diciumnya ia dan digandeng
memasuki rumahnya.
“Kak Rizal lagi gak di rumah kak?” senyum Nina
tersungging disana, ia senang dapat bertemu dengan satu-satunya kakak perempuan
yang ia miliki.
“Engga, kamu mau minum apa?” tanya Shinta
sambil melenggangkan tubuhnya ke dapur. “Ibu dan bapak sehat?”
Nina mengikuti gerak tubuh wanita itu, sambil
memandang ke penjuru arah. Dirasanya hawa sepi yang menakutkan, beberapa tempat
terlihat berdebu dengan gorden yang sepertinya sudah satu tahun tak pernah
dilengserkan untuk dicuci.
“Apa aja kak. Ibu sama bapak sehat kok.” Cukup
sampai disitu Nina menjelaskan tentang keadaan kedua orang tua mereka.
“Astagfirullah kakak…” Nina berhenti di meja makan.
Shinta menyembulkan kepala di balik pintu
kulkas. “Ada apa Nin?” Tanyanya dengan cemas.
“Ini loh kak… opor ayam basi kok masih ada di
meja. Kakak belum sarapan?” Nina mengangkat mangkuk berisi ayam itu. “Tuh liat,
udah berlendir kayak gini. Kenapa gak dibuang sih?” cerocosnya pada Shinta.
“Kakak lupa buang. Sini!” kini Shinta yang
mengambil alih mangkuk itu. Bukan tanpa alasan Shinta membiarkan makanan itu
ada di atas meja. Ia berharap Rizal, sang suami dapat mencicipi makanan itu.
Tapi ia tak pernah datang hanya untuk sekedar mencicipi, sampai hari ini
makanan itu basi.
Dengan kalimat Shinta yang bernada tegas, Nina
rasa ia telah melakukan kesalahan. Dan ia pun merasa malu harus membuat
kakaknya menundukan kepala, menyembunyikan kegalauan hatinya. Menyembunyikan
kesedihan yang justru terlihat jelas di mata Nina. Sayangnya ia tak dapat
berbuat apa-apa selain membiarkan Shinta sibuk dengan sampahnya. Sesaat keadaan
menjadi hening, yang terdengar hanya kucuran air kran mengaliri mangkung yang
Shinta basuh.
Tutt..
tutt…
Getar handphone milik Shinta yang ada di atas
kulkas berbunyi. Sang empu mengambilnya dan memencet tombol hijau.
“Ya Mas, oh gitu.” Shinta menganguk. “Gak apa-apa,
ya Insya Allah aku kesana. Tar aku kabarin lagi kalau sudah sampai.” Dan pembicaraan
pun berakhir.
Nina memandang wajah kakaknya yang semu
kemerahan. Jelas genangan cairan hangat di mata Shinta mendesak untuk dikeluarkan.
Nina menghampiri perempuan kurus itu dan memeluknya.
“Ada apa kak?” Ucapnya lirih.
Dan ya, bulir-bulir air hangat itu kini menetes
di pipi Shinta. Ia tak dapat lagi menyembunyikannya. Meskipun begitu, jemarinya
masih sibuk untuk menghapus air mata yang telah jatuh. Menguatkan diri untuk
memjawab tanya sang adik.
“Fajri dibawa ke rumah sakit. Panasnya gak
turun-turun, dan Mas Rizal gak bisa izin buat nungguin.” Terbata-bata ia
menjawab. Entah apa yang sebenarnya ia tangisi.
Nina makin mengencangkan pelukannya. “Mamanya
kemana kak?”
“Mamanya ada, kakak disuruh nemenin sama dia.
Biar gantian.” Tangis itu belum juga berhenti. Meskipun tidak membuat raungan
nyaring, namun hatinya serasa di dikuliti sampai urat-uratnya terlihat.
Dan kedua saudara itu memasuki pikirannya
masing-masing. Tanpa berbicara, seakan Nina tahu sakit hati yang dirasakan
kakaknya. Sudah cukup menderita kehidupan awal-awal pernikahan Shinta dulu yang
tidak direstui oleh ibu dan bapak. Sekarang, setelah rumah tangganya berjalan
ia lebih diuji dengan perkara lain. Seperti kemarin dengan ketidak hadiran suaminya,
padahal hanya diakhir pekan Rizal berkunjung. Lalu hari ini dimana dia harus
mengurusi anak tirinya dengan istri Rizal yang lain.
Shinta tak berhenti mengambil napas panjang. Ia
tahu berada satu ruangan dengan Mba Rizki bukanlah hal yang mudah. Mengingat perempuan
jawa itu selalu saja mengambil celah kecil untuk memarahi dirinya. Andai
suaminya tahu apa yang terjadi dibalik layar.
Dulu, Shinta harus meyakinkan Ibu dan bapaknya
untuk bisa menerima keadaannya sebagai istri kedua. Saat ini ia lebih harus
meyakinkan dan menguatkan dirinya sendiri bahwa, keadaan ini bukanlah sebuah
kiamat. Ini hanyalah lembaran kehidupan yang akan selalu ia lalui sebagai istri
kedua.
“Jadi kakak mau ke rumah sakit sekarang?” Tanya
Nina hati-hati.
“Iya.” Dengan memaksakan senyum, Shinta
memandang adiknya.
“Aku temani. Biar perempuan itu tidak
semena-mena sama kakak.” Nina berkata mantap.
Sedangkan Shinta mengerutkan kening. Dia tak
pernah berkata apapun pada Nina soal perlakuan Mba Rizki padanya. Tapi
kata-kata Nina seakan tahu hal buruk yang pernah terjadi. “Nina?”
“Aku tahu apa yang sudah terjadi.” Nina
menangkap raut wajah keheranan Shinta dan mengulas senyum untuk menenangkan
kakaknya itu.
0 komentar:
Posting Komentar