Minggu, 20 April 2014

Opor Basi



“Makanya jangan tidur mulu, kerja yang bener biar bisa minum kopi setiap pagi. Duit sehari cuma dikasih lima puluh ribu, mau dapet apa uang segitu zaman sekarang hah?” perempuan berperut tambun dengan rambut keriting itu pun berkata sambil lalu.

Pun setelah berada diluar ia melanjutkan ocehannya,“ Liat aja tuh Pak Darman, umur udah tua tapi narik tetep dari pagi sampe malem. Gak heran istrinya punya gelang emas banyak.”

“Yaelah… gue ngomong cuma sebaris, lu yang jawab kayak jalan tol. Kagak ada berentinye. Kalo udeh kagak ada duit ngomong yang alus, gak usah nyerocos kayak gitu. Gak enaklah didenger tetangga.” Kini giliran Bang Ali angkat suara. Untung saja Fadli sudah berangkat sekolah, sehingga dia tidak harus mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.

Adakalanya para tetangga menganggap pertengkaran mereka adalah percakapan biasa antara suami dan istri, mengingat mereka hampir melakukan hal itu disetiap pagi.

“Min, kopi gue mana Min?” itulah kalimat sederhana yang Bang Ali sampaikan pada istrinya. Bagi Bang Ali, kopi pagi adalah sarapan yang bisa ia nikmati. Karena kenikmatannya bisa menahan lapar hingga siang nanti, jadi ia tak harus membeli lontong sayur atau nasi uduk untuk sarapan.

Istrinya tak banyak peduli, jika jatah uang kurang ya kopi pun tidak ada. Mpok Minah  juga tidak memerhatikan bahwa sebenarnya Bang Ali baru tidur jam dua malam karena harus membantu pak Kadin membetulkan gerbang rumahnya. Meskipun kantuk masih merajai, tapi Bang Ali harus bangun jam enam supaya Mpok Minah tidak mengomel lagi.

Tapi ternyata sia-sia, pagi ini Bang Ali masih dapat semprot juga. Karena itu, Bang Ali lebih memilih keluar rumah dan memulai aktifitas menjadi supir angkutan umum.

“Dasar istri gak tau diuntung. Tarikan lagi sepi bukannya ngedo’a ini malah ngomel mulu. Orang mau leha-leha bentar ini malah diusir, tau rasa tar dia kalo gue tinggalin.” Ucap Bang Ali lirih sambil menstater mobilnya.

_oOo_


“Neng, sampe sini aja ya.”

“Gak sampai depan Bang?”

“Abangnya mau sarapan dulu nih di warung itu,” tunjuk si sopir pada sebuah warung berbilik bambu itu. “Maaf ya. Tinggal jalan bentar ini, noh keliatan kok gangnya.”

“Yaudah deh Bang, nih ongkosnya.” Perempuan berkerudung cokelat itu turun dari angkot, memang hanya dirinyalah yang menjadi penumpang mobil kijang tua itu. “Baru sarapan bang? Inikan udah jam 11.”

Pria dibalik kemudi itu menjawab dengan cengiran. “Yah… kita mah kerja dulu baru bisa makan Neng. Ini kembalinnya.” Uang satu lembar dua ribuan ia sodorkan.

“Haha… bisa aja Bang. Makasih ya...”

“Ya Neng…” Mobil angkutan itu kembali berjalan, membuat tanda pengenal yang bertuliskan Ali Sanusi bergoyang-goyang mengikuti laju mobil.

Sedangkan perempuan berkerudung cokelat itu tenggelam dalam pemikirannya,  sambil menulusuri gang sempit ke arah rumah sang kakak. Percakapan dirinya dengan supir angkot itu membuat ia berfikir, betapa tidak bersyukurnya ia.

Tadi pagi Nina disiapkan sarapan berupa nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi, tapi ia menolak menu makanan yang Ibunya siapkan. “Aku ingin roti bakar selai kacang Bu…” Rajutnya kala itu. Kemudian ia meninggalkan meja makan dan pergi keluar tanpa mengucap maaf atau terima kasih pada Ibunya sendiri.

“Astagfirullah…” Ucapnya lirih.

Dan Nina sudah sampai di depan sebuah pintu kayu bercat coklat. Beberapa ketukan pintu dan ia akan bertatap wajah dengan kakak yang sudah lama ia tak kunjungi.

Satu, dua, bahkan berkali kali, pintu itu tak terbuka. Nina mencoba memanggil dan memberikan salam. Tetap seperti itu, tertutup dan terkunci. Apakah kakaknya sedang berada di luar rumah? Tapi ia melihat jendela di samping pintu, terbuka.

“Assalamualaikum kak…??”

Dua, lima, bahkan lebih dari sepuluh menit, tak ada tanda-tanda ada orang di dalam rumah. Nina berfikiran untuk pulang, mungkin tadi Shinta lupa menutup jendela saat ia hendak pergi keluar. Baru saja Nina berbalik, pintu yang dibelakangnya telah terbuka. Sosok perempuan yang telah lama ia kenal berdiri disana.

“Nina, kamu mau kemana?” ucap perempuan di ambang pintu itu.

“Kakak…” Nina menghambur ke pelukannya. “Kenapa lama banget, Nina dari tadi tau.”

“Kakak tadi lagi di belakang, gak denger. Maaf ya…” tangan putih itu membelai pucuk kepala adiknya. Diciumnya ia dan digandeng memasuki rumahnya.

“Kak Rizal lagi gak di rumah kak?” senyum Nina tersungging disana, ia senang dapat bertemu dengan satu-satunya kakak perempuan yang ia miliki.

“Engga, kamu mau minum apa?” tanya Shinta sambil melenggangkan tubuhnya ke dapur. “Ibu dan bapak sehat?”

Nina mengikuti gerak tubuh wanita itu, sambil memandang ke penjuru arah. Dirasanya hawa sepi yang menakutkan, beberapa tempat terlihat berdebu dengan gorden yang sepertinya sudah satu tahun tak pernah dilengserkan untuk dicuci.
“Apa aja kak. Ibu sama bapak sehat kok.” Cukup sampai disitu Nina menjelaskan tentang keadaan kedua orang tua mereka. “Astagfirullah kakak…” Nina berhenti di meja makan.

Shinta menyembulkan kepala di balik pintu kulkas. “Ada apa Nin?” Tanyanya dengan cemas.

“Ini loh kak… opor ayam basi kok masih ada di meja. Kakak belum sarapan?” Nina mengangkat mangkuk berisi ayam itu. “Tuh liat, udah berlendir kayak gini. Kenapa gak dibuang sih?” cerocosnya pada Shinta.

“Kakak lupa buang. Sini!” kini Shinta yang mengambil alih mangkuk itu. Bukan tanpa alasan Shinta membiarkan makanan itu ada di atas meja. Ia berharap Rizal, sang suami dapat mencicipi makanan itu. Tapi ia tak pernah datang hanya untuk sekedar mencicipi, sampai hari ini makanan itu basi.

Dengan kalimat Shinta yang bernada tegas, Nina rasa ia telah melakukan kesalahan. Dan ia pun merasa malu harus membuat kakaknya menundukan kepala, menyembunyikan kegalauan hatinya. Menyembunyikan kesedihan yang justru terlihat jelas di mata Nina. Sayangnya ia tak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan Shinta sibuk dengan sampahnya. Sesaat keadaan menjadi hening, yang terdengar hanya kucuran air kran mengaliri mangkung yang Shinta basuh.

Tutt.. tutt…

Getar handphone milik Shinta yang ada di atas kulkas berbunyi. Sang empu mengambilnya dan memencet tombol hijau.

“Ya Mas, oh gitu.” Shinta menganguk. “Gak apa-apa, ya Insya Allah aku kesana. Tar aku kabarin lagi kalau sudah sampai.” Dan pembicaraan pun berakhir.

Nina memandang wajah kakaknya yang semu kemerahan. Jelas genangan cairan hangat di mata Shinta mendesak untuk dikeluarkan. Nina menghampiri perempuan kurus itu dan memeluknya.

“Ada apa kak?” Ucapnya lirih.

Dan ya, bulir-bulir air hangat itu kini menetes di pipi Shinta. Ia tak dapat lagi menyembunyikannya. Meskipun begitu, jemarinya masih sibuk untuk menghapus air mata yang telah jatuh. Menguatkan diri untuk memjawab tanya sang adik.

“Fajri dibawa ke rumah sakit. Panasnya gak turun-turun, dan Mas Rizal gak bisa izin buat nungguin.” Terbata-bata ia menjawab. Entah apa yang sebenarnya ia tangisi.

Nina makin mengencangkan pelukannya. “Mamanya kemana kak?”

“Mamanya ada, kakak disuruh nemenin sama dia. Biar gantian.” Tangis itu belum juga berhenti. Meskipun tidak membuat raungan nyaring, namun hatinya serasa di dikuliti sampai urat-uratnya terlihat.

Dan kedua saudara itu memasuki pikirannya masing-masing. Tanpa berbicara, seakan Nina tahu sakit hati yang dirasakan kakaknya. Sudah cukup menderita kehidupan awal-awal pernikahan Shinta dulu yang tidak direstui oleh ibu dan bapak. Sekarang, setelah rumah tangganya berjalan ia lebih diuji dengan perkara lain. Seperti kemarin dengan ketidak hadiran suaminya, padahal hanya diakhir pekan Rizal berkunjung. Lalu hari ini dimana dia harus mengurusi anak tirinya dengan istri Rizal yang lain.

Shinta tak berhenti mengambil napas panjang. Ia tahu berada satu ruangan dengan Mba Rizki bukanlah hal yang mudah. Mengingat perempuan jawa itu selalu saja mengambil celah kecil untuk memarahi dirinya. Andai suaminya tahu apa yang terjadi dibalik layar.

Dulu, Shinta harus meyakinkan Ibu dan bapaknya untuk bisa menerima keadaannya sebagai istri kedua. Saat ini ia lebih harus meyakinkan dan menguatkan dirinya sendiri bahwa, keadaan ini bukanlah sebuah kiamat. Ini hanyalah lembaran kehidupan yang akan selalu ia lalui sebagai istri kedua.

“Jadi kakak mau ke rumah sakit sekarang?” Tanya Nina hati-hati.

“Iya.” Dengan memaksakan senyum, Shinta memandang adiknya.

“Aku temani. Biar perempuan itu tidak semena-mena sama kakak.” Nina berkata mantap.

Sedangkan Shinta mengerutkan kening. Dia tak pernah berkata apapun pada Nina soal perlakuan Mba Rizki padanya. Tapi kata-kata Nina seakan tahu hal buruk yang pernah terjadi. “Nina?”

“Aku tahu apa yang sudah terjadi.” Nina menangkap raut wajah keheranan Shinta dan mengulas senyum untuk menenangkan kakaknya itu.

___
Tulisan ini diikutsertakan dalam GIVE AWAY KEPING HATI
http://www.lovrinz.com

0 komentar:

Posting Komentar