Ada hal menarik saat saya menulis cerpen untuk mengikuti event
RAK (Rengkuh Aku, Kekasih). Mungkin untuk orang lain hal itu biasa, tapi bagi
saya tidak. Dan hal itu membuat hati saya terbuka matanya. Lalu, hal itu soal
apa?
Jadi, malam itu saya putuskan untuk menahan kantuk dan lelah
sepulang kerja. Pokoknya malam itu harus selesai, karena DL sudah mepet.
Lagipula kepala ini rasanya hampir mau pecah karena harus terus mengingat
ide-ide yang seperti puzzle minta disusun. Niat sudah mantap, tapi ternyata
keadaan tak dapat diajak kompromi.
Setelah makan dan membasuh tubuh supaya segar, saya harus menunggu anak-anak tidur. Perlu
diketahui bahwa saya biasa tidur dengan dua sepupu yang usianya 7 dan 8 tahun. Tak
ada pilihan lain, karena saya gak bisa konsentrasi nulis kalau mereka masih
bangun. Biasalah anak-anak, kadang iseng nyalain kompor gas, atau si kakak yang
doyan nanya ini itu yang gak penting.
Jam 9 teng, waktu mereka tidurpun tiba. Syukurnya, si Ade
malam itu dikelonin ibunya. Kalau saja saya yang bagian ngelonin, tak ada
harapan saya buat nulis. Saya ini PELOR, kalau nempel di bantal langsung molor
alias tidur. Yang artinya, jadwal saya hanya tinggal niat.
Anak-anak tidur, bibi juga sudah kembali ke kamarnya. Tinggal
saya yang masih bangun, ditemani bising suara leptop di luar kamar. Bismillah…
mudah-mudahan bisa rampung.
Tak berapa lama jemari sudah menari di atas keyboard. Plong
rasanya saat semua ide yang bergumul di otak itu bisa disalurkan. Meluncur dengan
deras kata demi kata. Yes, sepertinya akan berhasil rampung sampai akhir. Sampai
ditengah cerita, terdengar suara dari kamar anak-anak.
Rengekan si kecil, semakin lama semakin jelas terdengar. Terpaksa
saya menengok kamar, memastikan tak ada hal buruk. Meskipun semua hal yang
diluar rencana adalah buruk bagi naskah saya yang menggantung. Dibukalah pintu
kamar itu, terlihat si Ade yang sedang duduk sambil merengek. Dia tahu kalau di
sana tak ada saya atau uminya yang menemani. Mau tak mau, ku ajak diri ini
merebah di pembaringan. Ngelus-ngelus punggung anak itu supaya dia kembali
tidur.
Saat itu ketakutan saya semakin menjadi. Fakta bahwa saya
seorang PeLor benar-benar bikin frustasi. Banyak pertanyaan di pikiran saya, bagaimana kalau tidak selesai? Bagaimana kalau
tidak bisa ikut event? Bagaimana dan
bagaimana merajai pikiran saya. Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa saya
sedang menyibukkan otak agar terus tetap sadar. Dengan ketakutan itu membuat
kinerja otak saya tidak melemah dan saya terus terjaga. Mengetahui hal itu
terjadi, saya ubah pikiran negative untuk mematangkan ide.
Berkali-kali saya atur bagaimana naskah saya yang
menggangtung bisa sampai ending yang memuaskan. Banyak spekulasi yang saya
buat. Adegan-adegan yang tak pernah terpikir jadi muncul seketika. Terus saya
ulang, sampai si Ade kembali tidur. Alhamdulillah.
Saya bangkitkan diri menuju laptop yang masih menyala. Dilirik
kembali setiap kalalimat yang saya tulis. Menambah paragraf demi paragraph,
sampai naskah itu menuju ending. Tamat. Naskah dirampungkan, Alhamdulillah selesai.
Begitulah perjalanan menulis saya. Biasa kan? Tapi dalam
perjalanan itu saya menemukan dua kejadian yang tak dapat saya lupakan. Satu,
saya mendapatkan trik bagaimana supaya tidak langsung pelor. Kedua, pengalaman
saya dalam mengurus anak kecil. Sekarang, posisi saya hanyalah seorang kakak. Jikalau
pun saya sedang malas meladeni mereka, masih ada ibunya yang mengurusinya. Coba,
bayangkan jika saya adalah ibu mereka. Harus menidurkan mereka, bangun ditengah
malam karena rengekan. Dan sendirinya dikejar-kerjar DL yang tanpa excuse. Saya
sendiri ragu dapat melakukan semuanya sendiri.
Karena itu, dengan segenap hati saya acungkan lima jempol
(satunya minjem punya ade) kepada para ibu KBM-er yang selalu semangat menulis
dan tidak lupa dengan kewajibannya mengurus anak. Apa yang terjadi pada saya
bukanlah apa-apa bagi mereka. Bahkan, dari cerita mereka saya dengar ada yang
menulis disepertiga malam. Menulis dengan menggendong anak yang sakit, atau
sambil nemenin anaknya yang sedang main. Menulis butuh konsentrasi loh… dan itu
tak gampang bila ada anak kecil yang super jail di antara kita. So, mana celah
yang membuat saya excuse menulis? Tidak ada.

0 komentar:
Posting Komentar