Selasa, 29 April 2014

Behind the scene penulisan naskah RAK

Ada hal menarik saat saya menulis cerpen untuk mengikuti event RAK (Rengkuh Aku, Kekasih). Mungkin untuk orang lain hal itu biasa, tapi bagi saya tidak. Dan hal itu membuat hati saya terbuka matanya. Lalu, hal itu soal apa?


Jadi, malam itu saya putuskan untuk menahan kantuk dan lelah sepulang kerja. Pokoknya malam itu harus selesai, karena DL sudah mepet. Lagipula kepala ini rasanya hampir mau pecah karena harus terus mengingat ide-ide yang seperti puzzle minta disusun. Niat sudah mantap, tapi ternyata keadaan tak dapat diajak kompromi.

Setelah makan dan membasuh tubuh supaya segar, saya  harus menunggu anak-anak tidur. Perlu diketahui bahwa saya biasa tidur dengan dua sepupu yang usianya 7 dan 8 tahun. Tak ada pilihan lain, karena saya gak bisa konsentrasi nulis kalau mereka masih bangun. Biasalah anak-anak, kadang iseng nyalain kompor gas, atau si kakak yang doyan nanya ini itu yang gak penting.

Jam 9 teng, waktu mereka tidurpun tiba. Syukurnya, si Ade malam itu dikelonin ibunya. Kalau saja saya yang bagian ngelonin, tak ada harapan saya buat nulis. Saya ini PELOR, kalau nempel di bantal langsung molor alias tidur. Yang artinya, jadwal saya hanya tinggal niat.

Anak-anak tidur, bibi juga sudah kembali ke kamarnya. Tinggal saya yang masih bangun, ditemani bising suara leptop di luar kamar. Bismillah… mudah-mudahan bisa rampung.

Tak berapa lama jemari sudah menari di atas keyboard. Plong rasanya saat semua ide yang bergumul di otak itu bisa disalurkan. Meluncur dengan deras kata demi kata. Yes, sepertinya akan berhasil rampung sampai akhir. Sampai ditengah cerita, terdengar suara dari kamar anak-anak.

Rengekan si kecil, semakin lama semakin jelas terdengar. Terpaksa saya menengok kamar, memastikan tak ada hal buruk. Meskipun semua hal yang diluar rencana adalah buruk bagi naskah saya yang menggantung. Dibukalah pintu kamar itu, terlihat si Ade yang sedang duduk sambil merengek. Dia tahu kalau di sana tak ada saya atau uminya yang menemani. Mau tak mau, ku ajak diri ini merebah di pembaringan. Ngelus-ngelus punggung anak itu supaya dia kembali tidur.

Saat itu ketakutan saya semakin menjadi. Fakta bahwa saya seorang PeLor benar-benar bikin frustasi. Banyak pertanyaan di pikiran saya,  bagaimana kalau tidak selesai? Bagaimana kalau tidak bisa ikut event? Bagaimana  dan bagaimana merajai pikiran saya. Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa saya sedang menyibukkan otak agar terus tetap sadar. Dengan ketakutan itu membuat kinerja otak saya tidak melemah dan saya terus terjaga. Mengetahui hal itu terjadi, saya ubah pikiran negative untuk mematangkan ide.

Berkali-kali saya atur bagaimana naskah saya yang menggangtung bisa sampai ending yang memuaskan. Banyak spekulasi yang saya buat. Adegan-adegan yang tak pernah terpikir jadi muncul seketika. Terus saya ulang, sampai si Ade kembali tidur. Alhamdulillah.

Saya bangkitkan diri menuju laptop yang masih menyala. Dilirik kembali setiap kalalimat yang saya tulis. Menambah paragraf demi paragraph, sampai naskah itu menuju ending. Tamat. Naskah dirampungkan, Alhamdulillah selesai.

Begitulah perjalanan menulis saya. Biasa kan? Tapi dalam perjalanan itu saya menemukan dua kejadian yang tak dapat saya lupakan. Satu, saya mendapatkan trik bagaimana supaya tidak langsung pelor. Kedua, pengalaman saya dalam mengurus anak kecil. Sekarang, posisi saya hanyalah seorang kakak. Jikalau pun saya sedang malas meladeni mereka, masih ada ibunya yang mengurusinya. Coba, bayangkan jika saya adalah ibu mereka. Harus menidurkan mereka, bangun ditengah malam karena rengekan. Dan sendirinya dikejar-kerjar DL yang tanpa excuse. Saya sendiri ragu dapat melakukan semuanya sendiri.

Karena itu, dengan segenap hati saya acungkan lima jempol (satunya minjem punya ade) kepada para ibu KBM-er yang selalu semangat menulis dan tidak lupa dengan kewajibannya mengurus anak. Apa yang terjadi pada saya bukanlah apa-apa bagi mereka. Bahkan, dari cerita mereka saya dengar ada yang menulis disepertiga malam. Menulis dengan menggendong anak yang sakit, atau sambil nemenin anaknya yang sedang main. Menulis butuh konsentrasi loh… dan itu tak gampang bila ada anak kecil yang super jail di antara kita. So, mana celah yang membuat saya excuse menulis? Tidak ada.

0 komentar:

Posting Komentar