Senin, 05 Mei 2014

My Dream Was Broke


Sudah menjadi komitmenku untuk meneruskan hobi menulis ini. Sudah tahu kan? Tentang bagaimana aku terobsesi dengan dunia tulis menulis ini. Menjadikannya patokan untuk sukses, karena aku merasa menulis adalah diriku sejujurnya. Disanalah aku bisa merasakan senang, tidak jenuh atau bosan. Dan ya… menulis bukan lagi mimpi bagiku, tapi jalan menuju kesuksesan. Amin.

Alhamdulillah dengan segala ucap syukur, keseriusan ini ditunjang dengan adanya laptop yang akhirnya aku miliki. Bukan sebuah hal yang gampang memiliki komputer jinjing untukku. Mengingat harganya yang lebih dari satu juta. Kalau bukan karena aku mendapat rangking pertama di kelas mungkin aku tak pernah punya laptop.

Ya, aku mendapatkan barang itu karena saat SMK paman berjanji untuk membelikan laptop. Disitulah bagaimana aku berusaha untuk menjadi yang pertama di kelas. Meskipun akhirnya aku juga memberi andil dalam pembelian laptop ini, singkat kata kita membelinya patungan. Hehe

Sebenarnya menulis dengan menggunakan handphone juga bisa, namun karena layar yang sempit membuat kegiatan tulis menulis tidak leluasa. Sekali lagi, alhamdulillah saya punya laptop untuk lebih lancar nulisnya.

Jadi tahu dong bagaimana berharganya laptop itu untukku. Bisa dikatakan bahwa laptop adalah jantung tulisan. Karena ketiadaanya membuat tulisanku hanya berakhir dalam pikiran saja.

Dan suatu malam, saat semua hendak beranjak ke pembaringan. Saat suasana rumah sepi seperti tanpa penghuni. Dengan tanpa kibasan angin, suara gedebuk nyaring terdengar.

BRRUUGG

Aku yang sedang menonton tv santai-santai saja. Ah mungkin hanya nampan yang jatuh, atau panci, atau mungkin piring. Tapi suara itu beda. Sepertinya berasal dari benda yang lebih berat. Ku tengok dapur, tak ada barang yang tergeletak sembarangan di lantai. Semuaanya nampak rapih.

Barulah saat ku tengok kamar yang memang dekat dengan ruang tivi, aku melihat barang yang jatuh itu. Barang itu tergeletak di lantai samping lemari plastik yang tingginya satu meter. Di atas lemari itu ada meja lipat yang biasanya digunakan untuk tatakan laptop. Dan kau tahu, posisi meja lipat itu miring. Otakku refeleks menyimpulakan bahwa yang tadi jatuh adalah laptopku.

Ya. Ya. Ya….. itu laptop. Benda yang terjatuh dari ketinggian satu meter dan mengeluarkan bunyi nyaring itu adalah Laptop ku. Jantung tulisanku. Masa depanku.

Refleks ku raih laptop berwarna hitam itu. Ia jatuh tanpa pelindung. Ku tarik ia dari lantai, membawanya seperti menimang anak bayi. Histeris. Aku terduduk sambil memangkunya, hampir semua penduduk rumah bangun menghampiri. Termasuk biang keladinya. Ara su Ara.

Buru-buru ku nyalakan tombol power. Dengan jantung yang berdegub kencan. Sekali, dua kali, tak juga menyala. Aku semakin panik memikirkan itu semua. Ketiga kali, tetap saja tak bisa.

Aku lebih histeris, melihat laptop yang tak mau hidup lagi rasanya seprti melihat orang yang mati. Mataku blank. Otakku terus berputar, mendemonstrasikan bagaimana laptop malangku jatuh. Lalu jatuhlah juga harapanku, impianku. Semuanya kelam. Hitam tak berbekas.

Lelehan air mata histeris itu tak bisa tertahan. Emak yang juga ribut bertanya kenapa, jelas ia tak mengerti kenapa tapi aku tak perduli. Laptop mati berarti masa depanku juga mati. Aku tak bisa bermimpi, namaku tak akan pernah terpampang di buku yang aku buat. Terjatuhnya laptop menjadi jatuhnya juga nafasku.

Aku sesak, sesegukan. Tapi masih bisa teriak tak jelas. Berkata, “Mati…. Gak bisa hidup lagi… mati….”

Sampai-sampai bibi keluar kamar. Menenangkanku dengan meneriaki Ara yang menjadi biang kerok, jelas itu tak membantu sama sekali. Teriakan menjadi hal yang lebih buruk bagi ku.

Kemudia ia mengambil laptop itu ditanganku.

“Itu mati… gak bisa idup…” teriakku nyaring. Tak peduli tetangga terganggu atas keributan ini. Maksudku jelas, laptop itu mati dan aku tak bisa hidup dengan mimpi lagi. Aku hampa, tanpa arah dan tujuan.

Tak kucermati gerakan bibi, aku hanya terus menangis dan berteriak. Pandanganku menyibak kesegala arah seperti orang kesurupan. Lalu dengan santainya bibi berkata, “Udah… tenang… ini liat!” Dia membalikkan leptop, memperlihatkan bagian belakangnya. “batreinya lepas.”

Aku masih menjerit sambil menangis. Sedangkan bibiku membenarkan posisi batrei laptop itu dan ON. Laptop itu pun hidup.

Kadung malu, ku teruskan saja apa yang telah terjadi. Menangis membabi buta ditemani lengkingan suaraku yang tak merdu. Tanpa mau melihat laptop hitam itu.

Jika mungkin laptop itu adalah manusia, bisa saja laptop itu nyengir puas ke arahku dan berkata, 

“You Got Punked”.

0 komentar:

Posting Komentar