Sudah menjadi
komitmenku untuk meneruskan hobi menulis ini. Sudah tahu kan? Tentang bagaimana
aku terobsesi dengan dunia tulis menulis ini. Menjadikannya patokan untuk
sukses, karena aku merasa menulis adalah diriku sejujurnya. Disanalah aku bisa
merasakan senang, tidak jenuh atau bosan. Dan ya… menulis bukan lagi mimpi
bagiku, tapi jalan menuju kesuksesan. Amin.
Alhamdulillah dengan
segala ucap syukur, keseriusan ini ditunjang dengan adanya laptop yang akhirnya
aku miliki. Bukan sebuah hal yang gampang memiliki komputer jinjing untukku.
Mengingat harganya yang lebih dari satu juta. Kalau bukan karena aku mendapat
rangking pertama di kelas mungkin aku tak pernah punya laptop.
Ya, aku mendapatkan
barang itu karena saat SMK paman berjanji untuk membelikan laptop. Disitulah bagaimana
aku berusaha untuk menjadi yang pertama di kelas. Meskipun akhirnya aku juga
memberi andil dalam pembelian laptop ini, singkat kata kita membelinya patungan.
Hehe
Sebenarnya menulis
dengan menggunakan handphone juga bisa, namun karena layar yang sempit membuat kegiatan
tulis menulis tidak leluasa. Sekali lagi, alhamdulillah saya punya laptop untuk
lebih lancar nulisnya.
Jadi tahu dong
bagaimana berharganya laptop itu untukku. Bisa dikatakan bahwa laptop adalah
jantung tulisan. Karena ketiadaanya membuat tulisanku hanya berakhir dalam
pikiran saja.
Dan suatu malam, saat
semua hendak beranjak ke pembaringan. Saat suasana rumah sepi seperti tanpa
penghuni. Dengan tanpa kibasan angin, suara gedebuk nyaring terdengar.
BRRUUGG
Aku yang sedang
menonton tv santai-santai saja. Ah mungkin hanya nampan yang jatuh, atau panci,
atau mungkin piring. Tapi suara itu beda. Sepertinya berasal dari benda yang
lebih berat. Ku tengok dapur, tak ada barang yang tergeletak sembarangan di
lantai. Semuaanya nampak rapih.
Barulah saat ku tengok
kamar yang memang dekat dengan ruang tivi, aku melihat barang yang jatuh itu.
Barang itu tergeletak di lantai samping lemari plastik yang tingginya satu
meter. Di atas lemari itu ada meja lipat yang biasanya digunakan untuk tatakan
laptop. Dan kau tahu, posisi meja lipat itu miring. Otakku refeleks
menyimpulakan bahwa yang tadi jatuh adalah laptopku.
Ya. Ya. Ya….. itu
laptop. Benda yang terjatuh dari ketinggian satu meter dan mengeluarkan bunyi
nyaring itu adalah Laptop ku. Jantung tulisanku. Masa depanku.
Refleks ku raih laptop
berwarna hitam itu. Ia jatuh tanpa pelindung. Ku tarik ia dari lantai, membawanya
seperti menimang anak bayi. Histeris. Aku terduduk sambil memangkunya, hampir
semua penduduk rumah bangun menghampiri. Termasuk biang keladinya. Ara su Ara.
Buru-buru ku nyalakan
tombol power. Dengan jantung yang berdegub kencan. Sekali, dua kali, tak juga
menyala. Aku semakin panik memikirkan itu semua. Ketiga kali, tetap saja tak
bisa.
Aku lebih histeris,
melihat laptop yang tak mau hidup lagi rasanya seprti melihat orang yang mati.
Mataku blank. Otakku terus berputar, mendemonstrasikan bagaimana laptop
malangku jatuh. Lalu jatuhlah juga harapanku, impianku. Semuanya kelam. Hitam
tak berbekas.
Lelehan air mata
histeris itu tak bisa tertahan. Emak yang juga ribut bertanya kenapa, jelas ia
tak mengerti kenapa tapi aku tak perduli. Laptop mati berarti masa depanku juga
mati. Aku tak bisa bermimpi, namaku tak akan pernah terpampang di buku yang aku
buat. Terjatuhnya laptop menjadi jatuhnya juga nafasku.
Aku sesak, sesegukan.
Tapi masih bisa teriak tak jelas. Berkata, “Mati…. Gak bisa hidup lagi… mati….”
Sampai-sampai bibi
keluar kamar. Menenangkanku dengan meneriaki Ara yang menjadi biang kerok,
jelas itu tak membantu sama sekali. Teriakan menjadi hal yang lebih buruk bagi
ku.
Kemudia ia mengambil
laptop itu ditanganku.
“Itu mati… gak bisa
idup…” teriakku nyaring. Tak peduli tetangga terganggu atas keributan ini.
Maksudku jelas, laptop itu mati dan aku tak bisa hidup dengan mimpi lagi. Aku
hampa, tanpa arah dan tujuan.
Tak kucermati gerakan
bibi, aku hanya terus menangis dan berteriak. Pandanganku menyibak kesegala
arah seperti orang kesurupan. Lalu dengan santainya bibi berkata, “Udah…
tenang… ini liat!” Dia membalikkan leptop, memperlihatkan bagian belakangnya.
“batreinya lepas.”
Aku masih menjerit
sambil menangis. Sedangkan bibiku membenarkan posisi batrei laptop itu dan ON.
Laptop itu pun hidup.
Kadung malu, ku
teruskan saja apa yang telah terjadi. Menangis membabi buta ditemani lengkingan
suaraku yang tak merdu. Tanpa mau melihat laptop hitam itu.
Jika mungkin laptop
itu adalah manusia, bisa saja laptop itu nyengir puas ke arahku dan berkata,
“You Got Punked”.

0 komentar:
Posting Komentar