Minggu, 16 Maret 2014

Berkata Cinta


Setelah berlama dijejali banyak kisah mengerikan dan tak pernah terpikirkan, akhirnya aku dapat membuat kesimpulan atau setidaknya mengambil setitik jalan dari apa yang terjadi dikisah rumah tangga kedua orang tuaku. Berkata cinta, itulah yang aku dapat.

Coba tengok kanan dan kiri, apakah anda selalu berkata cinta pada orang disekeliling anda?

Tentulah bukan kata cinta para pujangga yang mereka elukan keindahan dan kepedihannya. Kata cinta yang kumaksud telah bermetamorfosis dan menjadi kata lain yang lebih familiar, seperti kata ‘terima kasih’, ‘hati-hati dijalan’, ‘aku mendoakanmu’. Apakah anda masih menggunakannya?

Kata cinta itu penting. Kedua orang tuaku mengatakannya lewat kisah hidup dramatis mereka yang mengerikan. Mereka mengungkapkan bahwa kata cinta begitu penting dikehidupan kita yang sentimentil. Berkata ‘tolong’ saat menyuruh seseorang dan mengucapkan ‘terima kasih’ di akhirnya bisa membuat kita lebih berbudi dan membuat orang yang menolong kita merasa dihargai. Atau bahkan berkata ‘aku sayang kamu’, ‘aku rindu kamu’,’aku membutuhkanmu’. Dengan itu seseorang yang mendengarnya akan merasa dibutuhkan dan berkesimpulan bahwa masih ada orang yang peduli padanya.

Coba bayangkan saat orang tua menyuruh anaknya dan tak pernah berkata ‘tolong’, si anak mencium nada otoriter dari orang tuanya. Lalu ia merasa tertekan, merasa diperbudak. Maka timbullah rasa ingin memberontak dan membangkak perintah orang tuanya. Mengerikan bukan?

Bekata cinta menjadi sebuah vaksin yang aku suntikan pada otak kecilku ini. Pokoknya, dengan segala upaya aku akan berkata cinta pada siapapun yang aku sayangi. Karena itulah salah satu faktor keharmonisan. Namun sayang, waktu seakan menyuruhku untuk menjadi lupa akan hal penting itu. Menjadi dewasa membuat mulutku mengalami kendala untuk berkata cinta. Kenyataan bahwa aku sering sekali mendapati mulutku tidak mengucapkan kata-kata sederhana itu.

Tengoklah saat teman perempuanku berkata ‘aku rindu’ lalu ia tersenyum lebar dan memelukku, aku tak bisa berkata apa-apa, lenganku tak membalas pelukannya bahkan wajahku menjadi datar saat itu. Inilah yang aku sesalkan, namun aku tak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Beruntung kata cinta tak hanya bisa terucap, tapi juga menjelma sebagai sebuah perhatian dan perilaku sayang yang kita tunjukan padanya.

Disini aku hanya ingin berbagi tentang hal yang penting (menurutku) sebagai salah satu jalan menuju kehidupan yang harmonis. Dan juga ingin mengutarakan kepada teman, sahabat, adik, kakak, paman, bibi, kakek, nenek dan kedua orang tuaku bahwa aku menyayangi mereka dengan sangat. Kata cinta yang jarang terucap atau malah tak pernah terucap, bukanlah tanda bahwa saya tak mencintai kalian. Ini hanya soal kebiasaan, dan aku tak terbiasa berkata cinta pada kalian.

Salah satu kekuranganku, tidak dapat berkata cinta pada orang-orang terdekat. Semoga anda tak memiliki kekurangan sepertiku.
Terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar