Setelah berlama
dijejali banyak kisah mengerikan dan tak pernah terpikirkan, akhirnya aku dapat
membuat kesimpulan atau setidaknya mengambil setitik jalan dari apa yang
terjadi dikisah rumah tangga kedua orang tuaku. Berkata cinta, itulah yang aku
dapat.
Coba tengok kanan
dan kiri, apakah anda selalu berkata cinta pada orang disekeliling anda?
Tentulah bukan
kata cinta para pujangga yang mereka elukan keindahan dan kepedihannya. Kata cinta
yang kumaksud telah bermetamorfosis dan menjadi kata lain yang lebih familiar,
seperti kata ‘terima kasih’, ‘hati-hati dijalan’, ‘aku mendoakanmu’. Apakah
anda masih menggunakannya?
Kata cinta itu
penting. Kedua orang tuaku mengatakannya lewat kisah hidup dramatis mereka yang
mengerikan. Mereka mengungkapkan bahwa kata cinta begitu penting dikehidupan
kita yang sentimentil. Berkata ‘tolong’ saat menyuruh seseorang dan mengucapkan
‘terima kasih’ di akhirnya bisa membuat kita lebih berbudi dan membuat orang
yang menolong kita merasa dihargai. Atau bahkan berkata ‘aku sayang kamu’, ‘aku
rindu kamu’,’aku membutuhkanmu’. Dengan itu seseorang yang mendengarnya akan
merasa dibutuhkan dan berkesimpulan bahwa masih ada orang yang peduli padanya.
Coba bayangkan
saat orang tua menyuruh anaknya dan tak pernah berkata ‘tolong’, si anak mencium
nada otoriter dari orang tuanya. Lalu ia merasa tertekan, merasa diperbudak.
Maka timbullah rasa ingin memberontak dan membangkak perintah orang tuanya. Mengerikan
bukan?
Bekata cinta
menjadi sebuah vaksin yang aku suntikan pada otak kecilku ini. Pokoknya, dengan
segala upaya aku akan berkata cinta pada siapapun yang aku sayangi. Karena
itulah salah satu faktor keharmonisan. Namun sayang, waktu seakan menyuruhku
untuk menjadi lupa akan hal penting itu. Menjadi dewasa membuat mulutku
mengalami kendala untuk berkata cinta. Kenyataan bahwa aku sering sekali
mendapati mulutku tidak mengucapkan kata-kata sederhana itu.
Tengoklah saat
teman perempuanku berkata ‘aku rindu’ lalu ia tersenyum lebar dan memelukku,
aku tak bisa berkata apa-apa, lenganku tak membalas pelukannya bahkan wajahku
menjadi datar saat itu. Inilah yang aku sesalkan, namun aku tak tahu bagaimana
cara memperbaikinya. Beruntung kata cinta tak hanya bisa terucap, tapi juga
menjelma sebagai sebuah perhatian dan perilaku sayang yang kita tunjukan
padanya.
Disini aku hanya
ingin berbagi tentang hal yang penting (menurutku) sebagai salah satu jalan
menuju kehidupan yang harmonis. Dan juga ingin mengutarakan kepada teman,
sahabat, adik, kakak, paman, bibi, kakek, nenek dan kedua orang tuaku bahwa aku
menyayangi mereka dengan sangat. Kata cinta yang jarang terucap atau malah tak
pernah terucap, bukanlah tanda bahwa saya tak mencintai kalian. Ini hanya soal
kebiasaan, dan aku tak terbiasa berkata cinta pada kalian.
Salah satu
kekuranganku, tidak dapat berkata cinta pada orang-orang terdekat. Semoga anda
tak memiliki kekurangan sepertiku.
Terima kasih.
0 komentar:
Posting Komentar