Minggu, 16 Maret 2014

I could live without breast


Bagaimana saat langit malam diatas atap tak lagi berbintang? Sungguh itu tak apa, karena dia akan ada disisi lain cakrawala  yang akan dikenang orang lain sebagai bentuk yang indah dari sebuah penciptaan.

Tapi bagaimana saat mulut tak bersuara, mata tak lagi melihat, kuping tak lagi mendengar dan  hati tak lagi merasa? Tak mungkin jika ia bereaksi yang sama sebelumnya.

oOo

“Neng.. Neng..” Panggilan nyaring dan ketukan keras datang dari seorang perempuan paruh baya. Diikuti oleh cucunya yang melakukan hal yang sama.

“Eh, dede gak boleh panggil Neng, panggil ibu.” Ucapnya memperingati anak laki-laki umur lima tahun itu. Tapi anak kecil tetap anak kecil, yang mempunyai keluguan dalam hal tiru meniru. “Neng... Neng...”

“Kayaknya ibu kamu tidur de, kita lewat belakang aja yuk!”

Nenek dan cucunya itu menyusuri jalan sempit yang mengarah ke belakang rumah mereka. Beberapa trik mengapit dan mencongkel ia kerahkan untuk membuka pintu belakang yang terbuat dari kayu mahoni dengan kait kayu yang sama. Terbuka.

“Ibu....” Sekoyong-koyong kaki kecil itu berlari ke arah seorang perempuan yang tersungkur dilantai. Di dekatnya sebuah pisau dapur yang berlumuran darah.

Pintu terkunci kembali. Si nenek baru saja hendak meletakan barang belanjaannya di dapur. Ia tak tahu bahwa teriakan cucunya itu bukanlah sebuah  teriakan seorang anak yang merindukan ibunya karena tidak bertemu satu bulan lebih, juga bukan karena mainannya yang rusak. Barulah saat ia menghampiri keduanya di sebuah kamar bergorden kain bermotif bunga merah jambu, ia tahu. Bahwa sesuatu yang tak pernah ia percayai terjadi.

“Astagfirullah Neng...”

Tubuh anak perempuannya ia guncang. Pucat pasi ia dapatkan dari wajah cantik yang biasanya berseri itu. Ia menepis sebuah pisau yang anaknya genggam. Mengindahkan cairan kental berwarna merah marun mengotori sebagian roknya.

“Aldi, panggil kakek.” Si nenek berteriak panik.

Bocah kecil itu manggut, meski ia sebenarnya tak mengerti harus berkata apa pada kakeknya. Ia berlari sekencang-kencangnya, untunglah si kakek berada di warung dekat rumah. Dan hanya kata “Ibu berdarah dirumah. Kakek pulang.” yang dapat ia sampaikan pada sang kakek. Pun sebenarnya ia tak mengerti apa yang terjadi.

oOo

Semua orang bertepuk tangan dan mengulas senyum, terutama para gadis muda yang duduk di barisan depan. Tapi para ibu-ibu yang ada di barisan belakangpun tersenyum simpul. Mungkin mereka juga mencoba menarik hati si pembicara, memberitahukan padanya  bahwa anak perempuan merekapun sama cantik dengan dirinya. Mungkin.

Bagaimana tidak, diantara deretan manusia yang duduk di panggung ia satu-satunya pandangan yang menyegarkan. Anak muda tampan dengan segudang prestasi. Dan yang lainnya hanya para orang tua berjubah putih bau karbol.

Si pembicara tampan itu berada dalam akhir ceritanya, setelah sekian banyak pembahasan yang ia utarakan dengan rapih dan proporsional seperti penampilannya. Kini giliran ia mempersilahkan orang lain untuk menjadi pembicara karena diadakannya perkumpulan ini bukanlah tentangnya melainkan tentang seseorang perempuan yang ia cintai sepanjang masa.

“Inilah perempuan yang hanya memiliki kemungkinan hidup 25% itu, Nisa Pramestia.”  Sekali lagi tepuk tangan kembali membahana. Si pria itu tersenyum pada seorang perempuan paruh baya yang ia panggil Nisa. Ia menundukan badan, membiarkan perempuan itu mengecup pelipisnya.

“Assalamualikum...” Sapa Nisa sebelum pembicaraan tentang kehidupannya dimulai.

oOo

Waktu berjalan entah kemana, ia tak lagi memikirkannya. Bahkan waktu untuk dirinya hidup.

Nafas tersenggal. Mulutnya tersumpal kaos putih yang ia kenakan, menahan sakit yang menjerat saat pisau itu berhasil meliuk di lengannya, membuat tetesan-tetasan cairan merah marun mengalir. Hidup baginya hanyalah sebuah kalimat yang tanpa titik, dan titik untuk mengakhiri hidupnya adalah apa yang telah ia lakukan sekarang.

Dan sadar adalah kata yang tak dapat ia definisikan. Beberapa saat ia merasa seluruh badannya tergoncang, terombang ambing entah oleh apa. Kemudian mati rasa, hanya keheningan yang dapat telinganya tangkap. Dan tak adalagi sakit dilengannya.

Beberapa saat lain ia merasakan tubuhnya terlempar. Tersungkur dihamparan tanah becek bekas hujan. Baju tidur yang ia kenakan basah dan kotor. Sakitnya kini menghinggapi jantungnya, mungkin hati, atau apapun itu yang menyesakan didada. Ia mencoba bangkit, dengan deras air mata meluncur dipipinya.

“Pergi sana! Tak ada guna lagi kamu disini.” Kalimat itu menggelegar di telinga Nisa. Ia hanya bisa terdiam dalam kesakitannya.

“Bagaimana aku bisa hidup dengan perempuan tanpa payudara sepertimu hah? Pesakitan tak ada guna.” Panah beracun lainnya.

Laki-laki berbadan tegap itu sekoyong-koyong menendang Nisa yang sudah tak berdaya. Di belakangnya perempuan lain yang seksi mengulum senyum kemenangan. Jerit dan tangis dari perempuan yang menjadi kekasih hidupnya selama tujuh tahun tak diindahkan.

Lalu perempuan itu  merasakan dadanya kembali sakit. Kini ia dapat mengusap dada, berkata pada angin bahwa ini adalah kali terakhir di berjumpa dengan benjolan kemerahan yang ada di bawah payudaranya. Ia tertidur, terasa pulas.

“Tabah ya bu, benjolan yang ada dibawah payudara kanan ibu ini adalah tumor penyebab kanker.” Dokter yang berkerudung hijau itu memberikan tatapan pengertian. Nisa tersenyum dibuatnya, ‘karena ini rumah sakit mahal jadi dokter pada senyum sama pasien, gak kayak di puskesmas’ pikirnya.

“Kanker itu apa bu dokter?”

“Itu penyakit serius bu. Yang biasanya timbul karena ada keluarga ibu juga yang kena kanker, atau karena pil KB yang ibu pakai. Tapi itu bukan sebab mutlak bu, artinya ibu terkena penyakit ini bisa karena apa saja. Kalau dulu pas benjolannya kecil mungkin ibu masih bisa saya kasih obat buat peredam nyeri. Tapi sekarang sudah gak bisa bu, jalan satu-satunya ya operasi.”

Mendengar kata operasi Nisa langsung meringis. Jika menyangkut operasi penyakit itu berarti benar-benar sangat parah bagi Nisa, dan sayangnya kini penyakit kanker itu bersarang di tubuhnya. Terlebih di payudaranya. Dia kini tak punya alasan lagi untuk tersenyum, tatapan dokter tadi bukanlah karena rumah sakit ini yang mahal. Tapi untuk menguatkan Nisa supaya tidak terpukul mengdengarn penjelasannya.

“Terus kalau payudaranya di operasi gimana bu?”

“Kemungkinan payudara ibu akan diangkat.”

Tak ada lagi kata yang dapat Nisa tanyakan. Ia menunduk lesu, tangannya meremas tangan suaminya. Bukan soal penyakit mematikan itu yang Nisa risaukan. Karena dari penjelasanan yang dokter itu katakan ia akan sembuh setelah benjolannya di angkat. Dan operasilah yang menjadi soal, namun juga bukan soal biaya operasi. Jabatan suaminya yang adalah pemimpin perusahaan besar (kata itu yang Nisa pahami sebagai pekerjaan suaminya) pasti memberikan dana yang berlimpah untuknya. Yang menjadi risau Nisa adalah kalimat bu dokter yang terakhir. Tentang pengangkatan payudara.

Dia tak dapat membayangkan bahwa dirinya akan memiliki dada yang timpang. Bagaimana kata tetangga. Dan bagaimana suaminya sendiri dapat menerima kenyataan itu. Apa yang dapat di pamerkan? Bukanlah keelokan wanita berada di wajah dan bentuk dada serta bokong?

Diantara kerisauan itu suaminya angkat suara. “Gak papa operasi saja. Supaya kamu gak sakit lagi.”

 Ini bukan fatamorgana di padang sahara. Nisa mendengar langsung kalimat lembut nan bijaksana itu dari mulut suaminya. Ia tersenyum simpul, sang dokter juga. Hatinya lega. Dengan kata-kata dari suaminya itu menjadi jawaban tersirat semua kerisauan Nisa. Berarti tak apa payudaranya menjadi rata. Bahwa tak apa jika ia kehilangan Nisa bahenol sang kembang desa.

Namun sayangnya ucapan itu bukanlah jawaban yang seperti Nisa kira.
oOo

Wajarlah jika pria itu tampan, toh ibunya juga cantik. Buah tak jauh dari pohonnya, dan syukurnya si pria yang tak lain adalah anak Nisa mewarisi sikap lembut dan penyayang dari ibunya.

“Bu... saya sudah di vonis hampir mati, tapi toh saya sekarang masih bisa bertemu kalian disini. Saya rasa kalimat dokter yang menyatakan bahwa kanker adalah penyakit mematikan harus di hapus. Karena yang mematikan itu bukan penyakit, tapi Allah. Tuhan kita. Dan tentu, bunuh diri itu satu-satunya jalan. Saya sangat bersyukur diberi umur panjang, karena saya bisa melihat Aldi tumbuh menjadi pria tampan yang disukai banyak perempuan.-Nisa memandang anaknya sebentar, lalu kembali ke peserta seminar- bener kan ya bu?”

Barisan depan maupun belakang tersipu dan serentak mengatakan ‘benar’.

“Dan hal penting yang saya ketahui dari semua kejadian yang menimpa saya ini bahwa tidak punya payudara bukanlah hal yang mematikan.”

Tepuk terakhir bergema. Acara selesai dengan sukses. Aldi memeluk ibunya sepanjang perjalanan pulang di jok belakang mobil.

Mereka tak pernah tahu bahwa saat mobilnya berbelok, mereka melewati seorang tokoh penting dari cerita Nisa tadi. Ia adalah pemilik gerobak kaki lima yang ada di trotoar jalan, sang lelaki tua pemilik gerobak itu beristrikan perempuan yang tak lagi seksi dan cerewet. Lelaki dan perempuan yang hanya mereka ingat sebagai kenangan.

oOo

0 komentar:

Posting Komentar