Bagaimana saat
langit malam diatas atap tak lagi berbintang? Sungguh itu tak apa, karena dia akan
ada disisi lain cakrawala yang akan
dikenang orang lain sebagai bentuk yang indah dari sebuah penciptaan.
Tapi bagaimana
saat mulut tak bersuara, mata tak lagi melihat, kuping tak lagi mendengar
dan hati tak lagi merasa? Tak mungkin
jika ia bereaksi yang sama sebelumnya.
oOo
“Neng.. Neng..”
Panggilan nyaring dan ketukan keras datang dari seorang perempuan paruh baya.
Diikuti oleh cucunya yang melakukan hal yang sama.
“Eh, dede gak
boleh panggil Neng, panggil ibu.” Ucapnya memperingati anak laki-laki umur lima
tahun itu. Tapi anak kecil tetap anak kecil, yang mempunyai keluguan dalam hal
tiru meniru. “Neng... Neng...”
“Kayaknya ibu
kamu tidur de, kita lewat belakang aja yuk!”
Nenek dan cucunya
itu menyusuri jalan sempit yang mengarah ke belakang rumah mereka. Beberapa
trik mengapit dan mencongkel ia kerahkan untuk membuka pintu belakang yang
terbuat dari kayu mahoni dengan kait kayu yang sama. Terbuka.
“Ibu....”
Sekoyong-koyong kaki kecil itu berlari ke arah seorang perempuan yang
tersungkur dilantai. Di dekatnya sebuah pisau dapur yang berlumuran darah.
Pintu terkunci
kembali. Si nenek baru saja hendak meletakan barang belanjaannya di dapur. Ia
tak tahu bahwa teriakan cucunya itu bukanlah sebuah teriakan seorang anak yang merindukan ibunya
karena tidak bertemu satu bulan lebih, juga bukan karena mainannya yang rusak.
Barulah saat ia menghampiri keduanya di sebuah kamar bergorden kain bermotif
bunga merah jambu, ia tahu. Bahwa sesuatu yang tak pernah ia percayai terjadi.
“Astagfirullah
Neng...”
Tubuh anak
perempuannya ia guncang. Pucat pasi ia dapatkan dari wajah cantik yang biasanya
berseri itu. Ia menepis sebuah pisau yang anaknya genggam. Mengindahkan cairan
kental berwarna merah marun mengotori sebagian roknya.
“Aldi, panggil
kakek.” Si nenek berteriak panik.
Bocah kecil itu
manggut, meski ia sebenarnya tak mengerti harus berkata apa pada kakeknya. Ia
berlari sekencang-kencangnya, untunglah si kakek berada di warung dekat rumah.
Dan hanya kata “Ibu berdarah dirumah. Kakek pulang.” yang dapat ia sampaikan
pada sang kakek. Pun sebenarnya ia tak mengerti apa yang terjadi.
oOo
Semua orang
bertepuk tangan dan mengulas senyum, terutama para gadis muda yang duduk di
barisan depan. Tapi para ibu-ibu yang ada di barisan belakangpun tersenyum
simpul. Mungkin mereka juga mencoba menarik hati si pembicara, memberitahukan
padanya bahwa anak perempuan merekapun
sama cantik dengan dirinya. Mungkin.
Bagaimana tidak,
diantara deretan manusia yang duduk di panggung ia satu-satunya pandangan yang
menyegarkan. Anak muda tampan dengan segudang prestasi. Dan yang lainnya hanya
para orang tua berjubah putih bau karbol.
Si pembicara
tampan itu berada dalam akhir ceritanya, setelah sekian banyak pembahasan yang
ia utarakan dengan rapih dan proporsional seperti penampilannya. Kini giliran
ia mempersilahkan orang lain untuk menjadi pembicara karena diadakannya
perkumpulan ini bukanlah tentangnya melainkan tentang seseorang perempuan yang
ia cintai sepanjang masa.
“Inilah perempuan
yang hanya memiliki kemungkinan hidup 25% itu, Nisa Pramestia.” Sekali lagi tepuk tangan kembali membahana.
Si pria itu tersenyum pada seorang perempuan paruh baya yang ia panggil Nisa.
Ia menundukan badan, membiarkan perempuan itu mengecup pelipisnya.
“Assalamualikum...”
Sapa Nisa sebelum pembicaraan tentang kehidupannya dimulai.
oOo
Waktu berjalan
entah kemana, ia tak lagi memikirkannya. Bahkan waktu untuk dirinya hidup.
Nafas tersenggal.
Mulutnya tersumpal kaos putih yang ia kenakan, menahan sakit yang menjerat saat
pisau itu berhasil meliuk di lengannya, membuat tetesan-tetasan cairan merah
marun mengalir. Hidup baginya hanyalah sebuah kalimat yang tanpa titik, dan
titik untuk mengakhiri hidupnya adalah apa yang telah ia lakukan sekarang.
Dan sadar adalah
kata yang tak dapat ia definisikan. Beberapa saat ia merasa seluruh badannya
tergoncang, terombang ambing entah oleh apa. Kemudian mati rasa, hanya
keheningan yang dapat telinganya tangkap. Dan tak adalagi sakit dilengannya.
Beberapa saat
lain ia merasakan tubuhnya terlempar. Tersungkur dihamparan tanah becek bekas
hujan. Baju tidur yang ia kenakan basah dan kotor. Sakitnya kini menghinggapi
jantungnya, mungkin hati, atau apapun itu yang menyesakan didada. Ia mencoba
bangkit, dengan deras air mata meluncur dipipinya.
“Pergi sana! Tak
ada guna lagi kamu disini.” Kalimat itu menggelegar di telinga Nisa. Ia hanya
bisa terdiam dalam kesakitannya.
“Bagaimana aku
bisa hidup dengan perempuan tanpa payudara sepertimu hah? Pesakitan tak ada
guna.” Panah beracun lainnya.
Laki-laki
berbadan tegap itu sekoyong-koyong menendang Nisa yang sudah tak berdaya. Di
belakangnya perempuan lain yang seksi mengulum senyum kemenangan. Jerit dan
tangis dari perempuan yang menjadi kekasih hidupnya selama tujuh tahun tak
diindahkan.
Lalu perempuan
itu merasakan dadanya kembali sakit.
Kini ia dapat mengusap dada, berkata pada angin bahwa ini adalah kali terakhir
di berjumpa dengan benjolan kemerahan yang ada di bawah payudaranya. Ia
tertidur, terasa pulas.
“Tabah ya bu,
benjolan yang ada dibawah payudara kanan ibu ini adalah tumor penyebab kanker.”
Dokter yang berkerudung hijau itu memberikan tatapan pengertian. Nisa tersenyum
dibuatnya, ‘karena ini rumah sakit mahal jadi dokter pada senyum sama pasien,
gak kayak di puskesmas’ pikirnya.
“Kanker itu apa
bu dokter?”
“Itu penyakit
serius bu. Yang biasanya timbul karena ada keluarga ibu juga yang kena kanker,
atau karena pil KB yang ibu pakai. Tapi itu bukan sebab mutlak bu, artinya ibu
terkena penyakit ini bisa karena apa saja. Kalau dulu pas benjolannya kecil
mungkin ibu masih bisa saya kasih obat buat peredam nyeri. Tapi sekarang sudah
gak bisa bu, jalan satu-satunya ya operasi.”
Mendengar kata
operasi Nisa langsung meringis. Jika menyangkut operasi penyakit itu berarti
benar-benar sangat parah bagi Nisa, dan sayangnya kini penyakit kanker itu
bersarang di tubuhnya. Terlebih di payudaranya. Dia kini tak punya alasan lagi
untuk tersenyum, tatapan dokter tadi bukanlah karena rumah sakit ini yang
mahal. Tapi untuk menguatkan Nisa supaya tidak terpukul mengdengarn penjelasannya.
“Terus kalau
payudaranya di operasi gimana bu?”
“Kemungkinan
payudara ibu akan diangkat.”
Tak ada lagi kata
yang dapat Nisa tanyakan. Ia menunduk lesu, tangannya meremas tangan suaminya.
Bukan soal penyakit mematikan itu yang Nisa risaukan. Karena dari penjelasanan
yang dokter itu katakan ia akan sembuh setelah benjolannya di angkat. Dan
operasilah yang menjadi soal, namun juga bukan soal biaya operasi. Jabatan
suaminya yang adalah pemimpin perusahaan besar (kata itu yang Nisa pahami
sebagai pekerjaan suaminya) pasti memberikan dana yang berlimpah untuknya. Yang
menjadi risau Nisa adalah kalimat bu dokter yang terakhir. Tentang pengangkatan
payudara.
Dia tak dapat
membayangkan bahwa dirinya akan memiliki dada yang timpang. Bagaimana kata
tetangga. Dan bagaimana suaminya sendiri dapat menerima kenyataan itu. Apa yang
dapat di pamerkan? Bukanlah keelokan wanita berada di wajah dan bentuk dada
serta bokong?
Diantara
kerisauan itu suaminya angkat suara. “Gak papa operasi saja. Supaya kamu gak
sakit lagi.”
Ini bukan fatamorgana di padang sahara. Nisa
mendengar langsung kalimat lembut nan bijaksana itu dari mulut suaminya. Ia
tersenyum simpul, sang dokter juga. Hatinya lega. Dengan kata-kata dari
suaminya itu menjadi jawaban tersirat semua kerisauan Nisa. Berarti tak apa
payudaranya menjadi rata. Bahwa tak apa jika ia kehilangan Nisa bahenol sang
kembang desa.
Namun sayangnya
ucapan itu bukanlah jawaban yang seperti Nisa kira.
oOo
Wajarlah jika
pria itu tampan, toh ibunya juga cantik. Buah tak jauh dari pohonnya, dan
syukurnya si pria yang tak lain adalah anak Nisa mewarisi sikap lembut dan
penyayang dari ibunya.
“Bu... saya sudah
di vonis hampir mati, tapi toh saya sekarang masih bisa bertemu kalian disini.
Saya rasa kalimat dokter yang menyatakan bahwa kanker adalah penyakit mematikan
harus di hapus. Karena yang mematikan itu bukan penyakit, tapi Allah. Tuhan
kita. Dan tentu, bunuh diri itu satu-satunya jalan. Saya sangat bersyukur
diberi umur panjang, karena saya bisa melihat Aldi tumbuh menjadi pria tampan
yang disukai banyak perempuan.-Nisa memandang anaknya sebentar, lalu kembali ke
peserta seminar- bener kan ya bu?”
Barisan depan maupun
belakang tersipu dan serentak mengatakan ‘benar’.
“Dan hal penting
yang saya ketahui dari semua kejadian yang menimpa saya ini bahwa tidak punya
payudara bukanlah hal yang mematikan.”
Tepuk terakhir
bergema. Acara selesai dengan sukses. Aldi memeluk ibunya sepanjang perjalanan
pulang di jok belakang mobil.
Mereka tak pernah
tahu bahwa saat mobilnya berbelok, mereka melewati seorang tokoh penting dari
cerita Nisa tadi. Ia adalah pemilik gerobak kaki lima yang ada di trotoar jalan,
sang lelaki tua pemilik gerobak itu beristrikan perempuan yang tak lagi seksi
dan cerewet. Lelaki dan perempuan yang hanya mereka ingat sebagai kenangan.
oOo
0 komentar:
Posting Komentar