“Aduh gak bisa lagi.”
Sekoyong-koyong aku berteriak keras pada layar computer dihadapanku.
Jari-jariku membeku, tak bisa lagi menari di atas keybord. Selesai titik ya
sudah selesai, namun ceritanya tak pernah selesai.
“Ada apa sih mi??” Suamiku keluar dari kamar mandi dengan
handuk yang mengacak-acak rambut yang basah.
“Ini nih bie, mau bikin cerpen gak jadi-jadi. Mogok ditengah
jalan semuanya. Sebel.” Aku sempurna manyun di hadapan suami.
Ia berjalan menghampiriku. Handuk yang basah ia sampirkan di
gantungan baju. Kemudian ia membungkukan badannya, pandangannya terarah pada
layar computer. “Coba mana lihat??”
“Tuh liat kan, baru 500 kata udah mentok di titik.”
Mendengar racauanku bukannya menghindar dia malah menempatkan
kedua tangannya dipundakku, memijitnya pelan. Nyaman, entah kapan terakhir kali
ia melakukan hal semacam ini kepadaku.
“Sabar, gak semua bisa langsung jadi. No excuse. Itu kan
kata umi.” Katanya lembut.
Aku menengadah. Dengan posisi seperti itu aku bisa melihat dengan
jelas belahan dagu suami.
“Tapi bie…”
“Ya?” kini tatapan kita beradu. Niatku yang ingin mengeluarkan
lagi semua unek-unek yang serasa menyesak di dada, gagal. Aku terlalu lemah
untuk tidak terbuai wajah tampan yang
aku lihat saat ini.
“ Posisi romantis nih. Hehe…” Senyumku lebar ke arahnya.
“Apaan sih, udah sana masak. Biar abie baca dulu tulisan
umi.” Dia langsung melepaskan tangannya dari pundakku, beralih duduk
disampingku. Lalu dengan tanpa permisi menggeser badanku agar tak kebagian
duduk di kursi rias yang hanya bisa muat unuk satu orang itu. Aku berdiri, cembetut
lagi.
“Ih, abi nih gak ada romantis romantisnya.”
“Romantisannya nanti ya umi cantik… abie laper.” Ucapnya
dengan mengelus lenganku,
“Aiihhh… gombalannya gak nahan.” Aku kembali nyengir.
“Udah sana!” usirnya padaku.
“Iya iya” Aku mengambil langkah keluar kamar. Diambang pintu
aku mendapati handuk yang basah bertengger diantara baju kering.
Pluk.
Handuk itu mendarat di wajah suami. “Jemur di luar dulu baru
masak!” Perintahku sambil berkacak pinggang. Tapi tetep dengan cengiran.
Pluk. Kini gilaran wajahku yang tertimbun handuk.
“Sama umi aja.”
Pluk.
“Abie yang pake.”
Pluk
“Umi yang beresin.”
Pluk
“Gak mau pokoknya sama Abie.”
Pluk.
“Umi.”
Pluk
“Abie.”
Dan permainan lempar handuk basah itu terhenti atas bantuan
si kecil yang menangis.
0 komentar:
Posting Komentar