Kamis, 13 Maret 2014

Sebel Cerpennya Gak Pernah Selesai


“Aduh gak bisa lagi.”

Sekoyong-koyong aku berteriak keras pada layar computer dihadapanku. Jari-jariku membeku, tak bisa lagi menari di atas keybord. Selesai titik ya sudah selesai, namun ceritanya tak pernah selesai. 

“Ada apa sih mi??” Suamiku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang mengacak-acak rambut yang basah.

“Ini nih bie, mau bikin cerpen gak jadi-jadi. Mogok ditengah jalan semuanya. Sebel.” Aku sempurna manyun di hadapan suami. 

Ia berjalan menghampiriku. Handuk yang basah ia sampirkan di gantungan baju. Kemudian ia membungkukan badannya, pandangannya terarah pada layar computer. “Coba mana lihat??”

“Tuh liat kan, baru 500 kata udah mentok di titik.” 

Mendengar racauanku bukannya menghindar dia malah menempatkan kedua tangannya dipundakku, memijitnya pelan. Nyaman, entah kapan terakhir kali ia melakukan hal semacam ini kepadaku. 

“Sabar, gak semua bisa langsung jadi. No excuse. Itu kan kata umi.” Katanya lembut.
Aku menengadah. Dengan posisi seperti itu aku bisa melihat dengan jelas belahan dagu suami. 

“Tapi bie…”

“Ya?” kini tatapan kita beradu. Niatku yang ingin mengeluarkan lagi semua unek-unek yang serasa menyesak di dada, gagal. Aku terlalu lemah untuk tidak terbuai  wajah tampan yang aku lihat saat ini.

“ Posisi romantis nih. Hehe…” Senyumku lebar ke arahnya.

“Apaan sih, udah sana masak. Biar abie baca dulu tulisan umi.” Dia langsung melepaskan tangannya dari pundakku, beralih duduk disampingku. Lalu dengan tanpa permisi menggeser badanku agar tak kebagian duduk di kursi rias yang hanya bisa muat unuk satu orang itu. Aku berdiri, cembetut lagi.

“Ih, abi nih gak ada romantis romantisnya.” 

“Romantisannya nanti ya umi cantik… abie laper.” Ucapnya dengan mengelus lenganku,

“Aiihhh… gombalannya gak nahan.” Aku kembali nyengir.

“Udah sana!” usirnya padaku.

“Iya iya” Aku mengambil langkah keluar kamar. Diambang pintu aku mendapati handuk yang basah bertengger diantara baju kering.

Pluk.

Handuk itu mendarat di wajah suami. “Jemur di luar dulu baru masak!” Perintahku sambil berkacak pinggang. Tapi tetep dengan cengiran.

Pluk. Kini gilaran wajahku yang tertimbun handuk.

 “Sama umi aja.”

Pluk.

“Abie yang pake.”

Pluk

“Umi yang beresin.”

Pluk

“Gak mau pokoknya sama Abie.”

Pluk.

“Umi.”

Pluk

“Abie.”

Dan permainan lempar handuk basah itu terhenti atas bantuan si kecil yang menangis.

0 komentar:

Posting Komentar