“Mau pake mobil yang mana bu?” Tanya kang Pete seraya
menyodorkan tangannya mengambil tas yang kujinjing.
“Yang itu aja kang.” Tunjukku pada mobil merah yang
terparkir di depan mobil keluaran German berwarna biru muda, sedangkan mobil
merah yang akan kupakai adalah mobil
keluaran baru dari Inggris.
“Saya yang bawa yang kang, Kang Pete kan nanti jemput
anak-anak. Oh ya, Mak Ju gak usah masak buat makan siang. Kayaknya saya makan
diluar deh. Eh tapi tetep masak buat kalian makan deh. Hehe.”
Kang Pete tersenyum mendengar penjelasanku. Ia lalu
menghidupkan mobil dan membawanya di hadapanku, tas yang ia bawa tadi sudah ada
di kursi depan sebelah kursi kemudi.
“Mangga bu!” Lalu ia menyodorkan kunci mobil itu padaku.
“Nuhun Kang.” Aku menunduk dan langsung masuk kedalam mobil.
“Assalamualaikum.” Tambahku, tak lupa senyum dibelakangnya.
“Walaikumsalam.” Jawab kang Pete sambil tersenyum juga.
Pria beruban yang bertubuh kurus nan legam itu sudah
menemani keluarga kami selama 11 tahun menjadi sopir sekaligus tukang service
pribadi. Dia tipe orang yang tingkat kecerdasan tangannya tinggi, ia bisa
mengerjakan apa saja dengan cepat dan telaten. Sayangnya untuk bisa berbahasa
Indonesia membutuhkan waktu yang lama untuk ia pelajari. Untung saja suamiku
juga turunan Sunda, jadi kita terbiasa mengobrol dengan kang Pete memakai
bahasa ibu kami. Mengenai nama yang aku panggil buat dia itu bukan celaan.
Adanya nama itu karena memang dia doyan makan Pete. Love Pete so much lah, tapi
kita tidak memanggilnya dengan ejaan Pe-E-Te-E. Kita memanggilnya PIT sama
seperti memanggil PETER dalam bahasa Inggris tanpa huruf R. Hal ini juga
mengandung cerita. Tapi tak perlulah aku
menceritakan asal-muasal panggilan Pit itu.
“Hati-hati bu…” Teriak Kang Pete setelah mobil yang
kukendarai menjauhi gerbang rumah.
Bismillah.
Hari ini agendaku adalah menengok salah satu butik Hijab
yang ada di kawasan mampang, tidak terlalu jauh sebenarnya dari rumah. Tapi
karena macet semuanya terasa jauh dan lama. Semoga saja hari ini tidak macet.
Masih pukul sepuluh, jam makan siang masih lama. Harusnya jalanan tak terlalu
macet. Ya paling menghabiskan waktu 15 menit untuk dapat sampai di Mampang.
Semoga saja.
“Alhamdulillah oh syukur Allah… Ibu selamat Alhamdulillah…
ayah….”
Hapeku bordering, menyanyikan lagu anak-anak yang biasa
sikecil dengarkan. Disana tertera kontak dengan nama “A A”, Suamiku. Aku pencet tombol hijau dan tombol untuk
speker.
“Assalamualaikum…” Suaranya terdengar disana. Mungkin ia
tidak sedang sibuk.
“Walaikumsalam. “
“Kamu dimana De? “
“Lagi dijalan, mau ke mampang nengokin butik. Aa lagi gak
sibuk?”
“Alhamdulillah nih kerjaan gak terlalu padet. Makan siang
bareng yu! Entar a yang ke butik.”
“Oke deh.”
“Yaudah, hati-hati ya sayang ku. Sampai ketemu disana, Love
you. Wassalamualaikum”
“Walaikumsalam.”
Perbincangan soal makan siang berakhir. Layar Hape kembali
ke wallpaper awal. Tapi ada yang tersisa dari perbincangan itu, semburat merah
dan senyum malu-malu yang kini menghias wajahku. Belum sirna juga setelah aku
mendengar kata cintanya. Memang sudah lama kita menikah, tapi tetap saja saat
dia mengatakan cinta aku selalu merasa seperti ABG yang baru di tembak. Hehe
Tttttoooottttttttt
Ttttttoooottttttt
“Astagfirullah”
“Tuh yang nyetir gimana sih??”
Suara klakson itu benar-benar memekakan telinga. Keributan yang
terjadi juga membuatku kesal, tak bisakah diam saja? Huh. Ku kerjap-kerjapkan
mata, mencoba membaca apa yang sedang terjadi.
Manikku memandang dashbor. Disana ada sebuah mobil mewah
yang memakan ruas jalan mobil yang kini aku tumpangi. Kemacetan kini bertambah
level. Hampir semua mobil yang ada di belakang mobil kijang biru muda yang ku
tumpangi tidak bergerak sama sekali.
Huft, kapan nyampenya nih??
Kembali aku menepuk-nepuk ranselku, dan meletakkan kepala
diatasnya. Membuat posisi senyaman mungkin. Kembali tidur. Semoga mimpi yang
tadi dapat berlanjut.
0 komentar:
Posting Komentar