"Ah sudahlah, jangan kamu buang tenaga untuk menghiburku." Kelakku pada
malam. Aku sedang tak ingin tertawa, jadi apapun hal lucu yang ia
ceritakan akan berakhir dengan tanggapan datar.
Aku termangu
memendang langit. Lutut kutekuk dan memeluknya erat. Piyama tipis yang
membalut tubuh tak cukup kuat untuk menahan terpaan angin. Kedinginan,
tapi aku bersikeras untuk berada disitu ditemani malam.
Pikiranku terombang ambing entah kemana. Tak tau arah, menjelma
menjadi keabstarakan yang tak bisa teruarai oleh kata-kata. Aku
menyesali ketidak jelasan ini. Tak mau terlarut didalamnya, namun juga
tak tahu harus bagaimana. Toh yang aku rasakanpun aku tak tahu apa.
Angin semakin menusuk. Kualihkan pandang pada Malam. Dia pun
termangu, melihat bintang-bintang yang perlahan mengecil dan bersembunyi
dibalik gelap.
"Apakah perkataanku menyakitimu?" Dia bahkan tak memandangku. Pun sepatah kata darinya. Marahkah ia?
"Maafkan aku." Ucapku lirih.
Kutemani Malam memandangi
bintang kecil yang satu-satunya itu. Jikalau bisa, aku ingin
memperbanyak bintang yang terang sebagai permintaan maafku. Dia yang
selalu menemaniku apapun yang terjadi, kini aku menyakitinya. Padahal
dia hanya ingin membuatku tersenyum.
Ah bodohnya...
"Maafkan aku." Sekali lagi kata itu terucap dari bibirku. Ini memang salahku.
Angin
semakin menusuk, aku tak kuat lagi. Ayah akan memarahiku jika aku
terkena flu karena terlalu lama disini, diatas balkon kamarku. Jikalau
itu terjadi aku tak akan bisa bertemu dengan Malam lagi. Jadi kuputuskan
dengan berat untuk meninggalkan Malam. Kembali ke kamar dan bersembunyi
di balik selimut.
Aku mulai paksakan mata untuk tertutup. Tapi pikiran yang entah apa
itu dan Malam yang sedang marah membuatku terjaga. Kubalikkan posisi
badan, memeluk guling agar hangat dan kembali menutup mata. Tak berhasil
tidur juga.
Aku hanya bisa memandangi dinding kamar yang bercat putih dalam
diam. Mungkin saja mataku ini akan terpejam saat dia mulai letih. Tak
lama, suara air langit jatuh di atas genting terdengar. Semakin lama
semakin deras. Kata orang, hujan adalah perantara air mata dari langit.
Dan Malam adalah pemilik langit kali ini. Dia menangis melalui hujan.
Ah, malam. Padahal kamu sedang marah, tapi tetap saja tak ingin
melihatku menangisi ketidak tahuan atas pikiranku sendiri. Kau menangis,
agar aku tak menagis. Melalui hujan kau berikan kesejukan, hingga aku
mudah terlelap kemudian melupakan kesesalanku.
Terimakasih Malam, telah mewakilkanku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar