Minggu, 09 Maret 2014

Bersama Malam

"Ah sudahlah, jangan kamu buang tenaga untuk menghiburku." Kelakku pada malam. Aku sedang tak ingin tertawa, jadi apapun hal lucu yang ia ceritakan akan berakhir dengan tanggapan datar.

Aku termangu memendang langit. Lutut kutekuk dan memeluknya erat. Piyama tipis yang membalut tubuh tak cukup kuat untuk menahan terpaan angin. Kedinginan, tapi aku bersikeras untuk berada disitu ditemani malam.

Pikiranku terombang ambing entah kemana. Tak tau arah, menjelma menjadi keabstarakan yang tak bisa teruarai oleh kata-kata. Aku menyesali ketidak jelasan ini. Tak mau terlarut didalamnya, namun juga tak tahu harus bagaimana. Toh yang aku rasakanpun aku tak tahu apa.

Angin semakin menusuk. Kualihkan pandang pada Malam. Dia pun termangu, melihat bintang-bintang yang perlahan mengecil dan bersembunyi dibalik gelap.

"Apakah perkataanku menyakitimu?" Dia bahkan tak memandangku. Pun sepatah kata darinya. Marahkah ia?

"Maafkan aku." Ucapku lirih.

Kutemani Malam memandangi bintang kecil yang satu-satunya itu. Jikalau bisa, aku ingin memperbanyak bintang yang terang sebagai permintaan maafku. Dia yang selalu menemaniku apapun yang terjadi, kini aku menyakitinya. Padahal dia hanya ingin membuatku tersenyum.

Ah bodohnya...

"Maafkan aku." Sekali lagi kata itu terucap dari bibirku. Ini memang salahku.

Angin semakin menusuk, aku tak kuat lagi. Ayah akan memarahiku jika aku terkena flu karena terlalu lama disini, diatas balkon kamarku. Jikalau itu terjadi aku tak akan bisa bertemu dengan Malam lagi. Jadi kuputuskan dengan berat untuk meninggalkan Malam. Kembali ke kamar dan bersembunyi di balik selimut.

Aku mulai paksakan mata untuk tertutup. Tapi pikiran yang entah apa itu dan Malam yang sedang marah membuatku terjaga. Kubalikkan posisi badan, memeluk guling agar hangat dan kembali menutup mata. Tak berhasil tidur juga.

Aku hanya bisa memandangi dinding kamar yang bercat putih dalam diam. Mungkin saja mataku ini akan terpejam saat dia mulai letih. Tak lama, suara air langit jatuh di atas genting terdengar. Semakin lama semakin deras. Kata orang, hujan adalah perantara air mata dari langit. Dan Malam adalah pemilik langit kali ini. Dia menangis melalui hujan.

Ah, malam. Padahal kamu sedang marah, tapi tetap saja tak ingin melihatku menangisi ketidak tahuan atas pikiranku sendiri. Kau menangis, agar aku tak menagis. Melalui hujan kau berikan kesejukan, hingga aku mudah terlelap kemudian melupakan kesesalanku.

Terimakasih Malam, telah mewakilkanku.

0 komentar:

Posting Komentar