Rabu, 26 Februari 2014

AKU, Part of nothing



Sampai kapun aku mengecupmu di kala larut? Membangunkanmu hanya untuk mengucap “aku pulang”. Dan sampai kapan kau terbangun melihatku yang terbaring layu disampingmu. Sampai kapan?

 _oOo_
Hari ini hari minggu, hari yang sama-sama kita sepakati untuk menghabiskan waktu berdua saja. Saat aku masih tergolek di atas kasur kamar kita, kamu membuat bising didapur. Mataku mengerjap-ngerjap ketika aroma nasi goreng menyumbat hidungku. Dengan lihainya kau memaksa aku beranjak, tanpa harus menyuruhku.
Dimeja makan sana, kau atur dua piring nasi goreng dan jus jeruk berhadapan. Kau lebih memilih kursi yang menghadap kedapur dan aku duduk di hadapanmu. Lalu kamu mulai mengyendok nasi putih yang sekarang berubah gelap.

Aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan dan risaukan. Untuk beberapa saat aku terhenyak oleh diriku sendiri. Melihatmu makan dengan lahapnya, tersenyum dengan manis dan berlaku sangat baik membuat perasaanku terasa lebih buruk. Ini bukan tentang kamu, ini tentang aku. Yah, kau lebih paham dengan bagaimana caranya membuatku nyaman, sedang aku? Bagaimana bisa seorang istri yang pulang hampir larut malam dan tak pernah bangun seirama kokok ayam. Aku kalah dalam permainan rumah tangga olehmu. 

Ah bahkan pagi ini, saat kau membuatkan nasi goreng kecap plus telor setengah matang yang sekarang dihadapanku membuat aku semakin terhenyak. Bagaimana kata orang tuaku dulu? “Nak, kau harus pintar melayani suami, bukan hanya melayaninya saat malam saja, tapi harus pintar memanjakannya dalam segala urusan termasuk menyajikan makanan hangat saat suamimu pulang dan membuat menyiapkan pakaian untuk kerjanya.”  Kau tahu aku hampir tidak pernah melakukan hal itu untuk mu.

Makananku masih tak tersentuh. Aku malah lebih banyak memandangmu. Melihat paras yang dulu diidolakan banyak wanita. Tampan, dengan rambut yang tak pernah ketinggalan mode. Tapi itu dulu, sekarang kau lebih tampak seperti anak SMA yang tak mau dicukur karena berbagai alasan. Bukan, bukan kau tak tampan lagi. Tapi dimana aku saat penampilan mu terlihat tak terurus seperti ini?

Aku ingat kata-kata mu dulu. Saat kita turun dari kursi pelaminan, saat semua tamu sudah meninggalkan gedung. Kamu berikrar dihadapan bunga melati yang menggantung di kepala sampai pundakku. “Apapun yang akan terjadi, aku akan menemani mu.”.  Seharusnya aku banyak bersyukur karena perkataanmu bukanlah bualan semata, hal itu sudah terbukti sampai pada pagi ini. Sedang aku? Bagaimana caraku berterima kasih, bahkan untuk menghabiskan satu piring nasi goreng buatanmupun aku tak bisa. Jangan salahkan cairan hangat yang jatuh dipipiku ini.

Kamu pasti tak mengerti dengan diamku. Saat ini aku hanya bisa kembali ketempat tidur, membaringkan badan yang sepertinya tak berguna di hadapanmu. Mengusap tangis perlahan dan terlelap.

Dan sayangnya aku tahu, saat aku kembali ke tempat tidur kau yang menyelimutiku. Menempelkan punggung tanganmu ke dahiku. Kamu tahu aku tidak sakit, tapi tangamu meraba kakiku dan memijitnya.

Lalu apa guna aku?  

0 komentar:

Posting Komentar