Sampai kapun aku mengecupmu di kala larut? Membangunkanmu hanya
untuk mengucap “aku pulang”. Dan sampai kapan kau terbangun melihatku yang terbaring layu disampingmu. Sampai kapan?
_oOo_
Hari ini hari minggu, hari yang sama-sama kita sepakati untuk
menghabiskan waktu berdua saja. Saat aku masih tergolek di atas kasur kamar
kita, kamu membuat bising didapur. Mataku mengerjap-ngerjap ketika aroma nasi goreng
menyumbat hidungku. Dengan lihainya kau memaksa aku beranjak, tanpa harus
menyuruhku.
Dimeja makan sana, kau atur dua piring nasi goreng dan jus
jeruk berhadapan. Kau lebih memilih kursi yang menghadap kedapur dan aku duduk
di hadapanmu. Lalu kamu mulai mengyendok nasi putih yang sekarang berubah gelap.
Aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan dan risaukan.
Untuk beberapa saat aku terhenyak oleh diriku sendiri. Melihatmu makan dengan
lahapnya, tersenyum dengan manis dan berlaku sangat baik membuat perasaanku terasa lebih buruk. Ini bukan tentang kamu, ini tentang aku. Yah, kau lebih
paham dengan bagaimana caranya membuatku nyaman, sedang aku? Bagaimana bisa
seorang istri yang pulang hampir larut malam dan tak pernah bangun seirama kokok
ayam. Aku kalah dalam permainan rumah tangga olehmu.
Ah bahkan pagi ini, saat kau membuatkan nasi goreng kecap
plus telor setengah matang yang sekarang dihadapanku membuat aku semakin
terhenyak. Bagaimana kata orang tuaku dulu? “Nak, kau harus pintar melayani
suami, bukan hanya melayaninya saat malam saja, tapi harus pintar memanjakannya
dalam segala urusan termasuk menyajikan makanan hangat saat suamimu pulang dan
membuat menyiapkan pakaian untuk kerjanya.” Kau tahu aku hampir tidak pernah melakukan hal itu
untuk mu.
Makananku masih tak tersentuh. Aku malah lebih banyak
memandangmu. Melihat paras yang dulu diidolakan banyak wanita. Tampan, dengan
rambut yang tak pernah ketinggalan mode. Tapi itu dulu, sekarang kau lebih
tampak seperti anak SMA yang tak mau dicukur karena berbagai alasan. Bukan,
bukan kau tak tampan lagi. Tapi dimana aku saat penampilan mu terlihat tak
terurus seperti ini?
Aku ingat kata-kata mu dulu. Saat kita turun dari kursi
pelaminan, saat semua tamu sudah meninggalkan gedung. Kamu berikrar dihadapan
bunga melati yang menggantung di kepala sampai pundakku. “Apapun yang akan
terjadi, aku akan menemani mu.”. Seharusnya
aku banyak bersyukur karena perkataanmu bukanlah bualan semata, hal itu sudah
terbukti sampai pada pagi ini. Sedang aku? Bagaimana caraku berterima kasih,
bahkan untuk menghabiskan satu piring nasi goreng buatanmupun aku tak bisa. Jangan
salahkan cairan hangat yang jatuh dipipiku ini.
Kamu pasti tak mengerti dengan diamku. Saat ini aku
hanya bisa kembali ketempat tidur, membaringkan badan yang sepertinya tak
berguna di hadapanmu. Mengusap tangis perlahan dan terlelap.
Dan sayangnya aku tahu, saat aku kembali ke tempat tidur kau
yang menyelimutiku. Menempelkan punggung tanganmu ke dahiku. Kamu tahu aku
tidak sakit, tapi tangamu meraba kakiku dan memijitnya.
Lalu apa guna aku?
0 komentar:
Posting Komentar