Setengah berlari
kusambar handphone yang berada di atas kulkas. Nomer baru, siapa? Hatiku
bertanya. Segera ku pijit tombol hijau.
“Halo...,” sapa
seseorang di sebrang sana.
Nada suara yang berat
dan serak. Khas perempuan tua jawa. Tapi siapa? Kembali aku mengernyitkan dahi.
Saat itu aku sedang mencuci pakaian, jadi kalau ini hanya iseng lebih baik di
matiin saja.
Namun kuputuskan untuk
tetap menjawab. “Iya Halo….”
“Ini Laila?”
Dia tahu namaku?
Berarti seseorang yang kukenal. Dari khas bicaranya, aku menebak bahwa dia
adalah Mbah Cewek. Ibu dari bibi. Oh, tapi sepertinya bukan. Cara bicara ibu
biasanya lebih halus dari pada ini. Apa Mbah Jum?
Aku mulai menggigit
bibir. Takut jika memang itu telepon benar-benar suara Mbah Jum, adik Mbah
Cewek. Jika dia menelpon satu tahun yang lalu sih aku tak apa. Tapi jika ia
menelpon sekarang? Berarti ada seseorang yang memberikan hanphone ke kuburan
Mbah Jum.
“Iya, Mbah. Ini
Laila,” jawabku dengan nada semi takut.
“Laila yang dulu dari
Jalan Tengah dan sekarang di Depok?”
Sebentar, siapa orang
yang tau bahwa aku dulu di Condet dan sekarang di Depok? Oh, ya. Ibu.
“Iya, Bu.”
“Ini ibunya Diah,
Laila.” Aku mengusap dada, lega. Hanya pikiran bodoh yang menganggap itu
telepon dari Mbah Jum. Ya, itu dari Ibu (aku tak pernah tahu namanya siapa) Mba
Diah. Temanku yang akan ikut ke Pangalengan.
“Jadi besok bagaimana?
Tadi Bapak marah-marah sama Ibu. Pokoknya kalau besok tidak ketemu Laila, Diah
gak boleh berangkat.”
Teg. Mulut dan hatiku
sempurna membungkam pada kata, “Bapak marah.” Bapak adalah orang yang jarang
bicara. Dia sebenarnya baik, tapi juga tegas. Ketika ucapannya A, seluruh
keluarga akan tunduk dan melakukan A. Yang artinya jika besok aku tidak kesana
untuk pamit, tak ada perjalanan indah ke Pangalengan untuk Mbak Diah. Mission
failed.
Bapak marah. Sudah tak
terbayang bagaimana silaturahimku dan keluarga Mba Diah nantinya. Mungkin bapak
berpikir aku yang seenaknya menyuruh ini itu pada anaknya. Dan mengajak dengan
tanpa permisi lebih dahulu kepadanya.
Arggh… tatapanku kelam
menghadapi hari esok.
“Jangan tersinggung
ya, Laila. Anaknya kan gitu, bapak sama ibu khawtir kalau ada apa-apa. Diah
memang kemauannya gede, tapi kan dia punya keterbatasan. Memang Laila gak bisa
kesini dulu?”
Ya Allah, apa yang
harus kujawab?
Kutelan ludah
sebanyak-banyaknya supaya tidak tersedak. Dan mengumpulkan nafas yang panjang
agar jawabanku tak terpotong-potong. Bismillah.
“Iya, Bu, gak apa-apa.
Aku ngerti maksud ibu. Aku gak bisa kesana dulu, Bu. Besok aku berangkat kerja.
Jadi nanti Mba Diah aku jemput di stasiun Kalibata. Maaf ya, Bu, merepotkan.”
Lalu ia bertanya lagi
tentang acaranya. Kujelaskan dengan hati-hati, supaya ia bisa percaya bahwa aku
tidak mengajak Mba ke acara yang abal-abal. Acara ini dapat dipertanggung
jawabakan.
Tapi bagaimana
menjelaskannya?
“Ini adalah acara ke
Pangalengan. Nginep sabtu dan minggu. Besok berangkat malam dan sampai di
Bandung jumat malam. Acara ini diselenggarakan oleh grup di facebook. Grup
kepenulisan Pak Isa Alamsya.”
Apakah harus seperti
itu? Facebook? Apakah ibu tau facebook? Grup kepenulisan? Siapalah aku yang tak
pernah muncul dalam sampul buku. Dan pak Isa Alamsyah belum terkenal di
kalangan ibu-ibu. Kalau Bram mungkin ibu-ibu kenal.
Akhirnya aku jawab
dengan singkat. Tidak sedetail itu, tapi cukup untuk meyakinkan ibu.
“Ya sudah, jadinya
besok Diah ke Pasar Minggu atau Kalibata?” Alhamdulilllah, ibu percaya. Tinggal
urusan tempat pertemuanku dan Mba Diah dimana. Tak mungkin di Cikini, karena
Mba Diah ternyata tidak bisa naik kereta sendiri.
Di akhir kalimatnya
ibu berucap, “Terima kasih ya Laila, ibu seneng. Nanti hati-hati ya… semoga
kebaikanmu dibalas oleh Allah.”
Kembali, syukur
menghias bibirku. Kepercayaan ibu dan bapak adalah segalanya. Meski begitu, aku
tak mengerti maksud dari kebaikan yang ibu katakan.
Satu masalah
terselesaikan. Aku kembali lagi ke belakang untuk meneruskan cuci mencuci. Tapi
tak lama, hanphone berdering kembali. Di layar tertera nama Mba Diah. Duh, apa
lagi? Aku khawatir jika nanti kabar yang kuterima adalah kabar buruk.
Tak ada pilihan,
telepon itu harus kujawab. Dan suara yang terdengar ternyata bukan suara Mba
Diah. Tapi mas Rama, kakaknya Mba Diah. Itu juga hanya menanyakan perihal
tempat penjemputan. Di Kalibata atau Pasar Minggu. Ku jawab dengan mantap bahwa
nanti aku akan menjemput Mba di Kalibata. Meski bibir digigit, takut tak tepat
waktu sampai di Cikini nanti.
Keesokan harinya hati
ini masih saja takut. Takut telat dan takut tak diberi izin oleh bos. Sampai
jam dua belas siang aku masih belum meminta izin bos untuk pulang lebih awal.
Padahal aku bermaksud meminta izin jam tiga sore.
Meski takut, akhirnya
aku meminta izin kepada bos. Alhamdulillah, izin itu diberikan dengan
gampangnya. Jantung belum kembali berdegub normal, jam 2 lewat. Sebentar lagi.
Jarum jam sudah ada
pada angka tiga. Aku mulai siap-siap dan tara…. Si bos bilang, “Sebentar ya,
La, jangan pergi dulu. Aku titip dulu, mau beli printer. Gak ada orang lagi
sih.”
Aku terhenyak, hanya
bisa tersenyum kecut dan mengiyakan. Hati kembali bergemuruh. Tapi bantuan lain
datang, seseorang yang menawarkan jasa antar ke Kalibata dengan motornya. Ah,
syukurlah… Dan waktu pun berjalan dengan cepatnya. Aku dengan sangat terpaksa
meninggalkan toko dan pergi tanpa pamit langsung. Syukurnya, tidak sampai
sepuluh menit si bos sudah kembali ke toko. Plong. Tinggal satu lagi yang harus
di hadapai, pamit dengan bapak Mba Diah.
Sampai di stasiun
Kalibata tak perlu bingung mencari Mba ku itu. ia sudah dulu menghampiriku. Setelah
berterima kasih pada yang mengantar aku langsung menuju bapak. Lelaki tua itu
tersenyum ke arahku. Dengan segala kekuatan yang ada aku langsung nyerocos
kesana-kemari menjelaskan mengenai perjalanan ini dan meminta maaf karena sudah
merepotkan.
Dia tidak marah,
kawan. Hanya memperingatkan supaya hati-hati di jalan dan selamat sampai
tujuan. Alhamdulillah. Dalam hati aku meyakinkan diri, oke bapak, anakmu aman
bersamaku.
Tak banyak tingkah,
kita langsung membeli tiket dan menaiki kereta jurusan kota. Tidak perlu
menunggu karena kereta sebentar lagi datang. Dan, yeeaaa…. Akhirnya naik kereta
juga.
Dalam perjalanan aku
tanya pada Mba Diah, apakah dia pernah naik kereta.
“Pernah, tapi gak tau
tempat,” jelasnya. Salahku jika kemarin menyuruhnya untuk naik kereta ke
Cikini. Untung saja tidak.
“Mba dengar?” Saat itu
kotak informasi menyuarakan stasiun akan di tuju.
Dia menggeleng, “Gak
dengar, Laila.”
Aku ber “oh” dalam
hati. Itu alasan mengapa ibu-bapak sangat khwatir dengan adanya perjalanan
kereta ini. Ya ampun, Pa… maafin ila yaang lupa bahwa Mba Diah itu “spesial”.
0 komentar:
Posting Komentar