Minggu, 17 Agustus 2014

Telepon Berhantu?



Setengah berlari kusambar handphone yang berada di atas kulkas. Nomer baru, siapa? Hatiku bertanya. Segera ku pijit tombol hijau.

“Halo...,” sapa seseorang di sebrang sana.

Nada suara yang berat dan serak. Khas perempuan tua jawa. Tapi siapa? Kembali aku mengernyitkan dahi. Saat itu aku sedang mencuci pakaian, jadi kalau ini hanya iseng lebih baik di matiin saja.

Namun kuputuskan untuk tetap menjawab. “Iya Halo….”

“Ini Laila?”

Dia tahu namaku? Berarti seseorang yang kukenal. Dari khas bicaranya, aku menebak bahwa dia adalah Mbah Cewek. Ibu dari bibi. Oh, tapi sepertinya bukan. Cara bicara ibu biasanya lebih halus dari pada ini. Apa Mbah Jum?

Aku mulai menggigit bibir. Takut jika memang itu telepon benar-benar suara Mbah Jum, adik Mbah Cewek. Jika dia menelpon satu tahun yang lalu sih aku tak apa. Tapi jika ia menelpon sekarang? Berarti ada seseorang yang memberikan hanphone ke kuburan Mbah Jum.

“Iya, Mbah. Ini Laila,” jawabku dengan nada semi takut.

“Laila yang dulu dari Jalan Tengah dan sekarang di Depok?”

Sebentar, siapa orang yang tau bahwa aku dulu di Condet dan sekarang di Depok? Oh, ya. Ibu.

“Iya, Bu.”

“Ini ibunya Diah, Laila.” Aku mengusap dada, lega. Hanya pikiran bodoh yang menganggap itu telepon dari Mbah Jum. Ya, itu dari Ibu (aku tak pernah tahu namanya siapa) Mba Diah. Temanku yang akan ikut ke Pangalengan.

“Jadi besok bagaimana? Tadi Bapak marah-marah sama Ibu. Pokoknya kalau besok tidak ketemu Laila, Diah gak boleh berangkat.”

Teg. Mulut dan hatiku sempurna membungkam pada kata, “Bapak marah.” Bapak adalah orang yang jarang bicara. Dia sebenarnya baik, tapi juga tegas. Ketika ucapannya A, seluruh keluarga akan tunduk dan melakukan A. Yang artinya jika besok aku tidak kesana untuk pamit, tak ada perjalanan indah ke Pangalengan untuk Mbak Diah. Mission failed.

Bapak marah. Sudah tak terbayang bagaimana silaturahimku dan keluarga Mba Diah nantinya. Mungkin bapak berpikir aku yang seenaknya menyuruh ini itu pada anaknya. Dan mengajak dengan tanpa permisi lebih dahulu kepadanya.

Arggh… tatapanku kelam menghadapi hari esok.

“Jangan tersinggung ya, Laila. Anaknya kan gitu, bapak sama ibu khawtir kalau ada apa-apa. Diah memang kemauannya gede, tapi kan dia punya keterbatasan. Memang Laila gak bisa kesini dulu?”

Ya Allah, apa yang harus kujawab?

Kutelan ludah sebanyak-banyaknya supaya tidak tersedak. Dan mengumpulkan nafas yang panjang agar jawabanku tak terpotong-potong. Bismillah.

“Iya, Bu, gak apa-apa. Aku ngerti maksud ibu. Aku gak bisa kesana dulu, Bu. Besok aku berangkat kerja. Jadi nanti Mba Diah aku jemput di stasiun Kalibata. Maaf ya, Bu, merepotkan.”

Lalu ia bertanya lagi tentang acaranya. Kujelaskan dengan hati-hati, supaya ia bisa percaya bahwa aku tidak mengajak Mba ke acara yang abal-abal. Acara ini dapat dipertanggung jawabakan.

Tapi bagaimana menjelaskannya?

“Ini adalah acara ke Pangalengan. Nginep sabtu dan minggu. Besok berangkat malam dan sampai di Bandung jumat malam. Acara ini diselenggarakan oleh grup di facebook. Grup kepenulisan Pak Isa Alamsya.”

Apakah harus seperti itu? Facebook? Apakah ibu tau facebook? Grup kepenulisan? Siapalah aku yang tak pernah muncul dalam sampul buku. Dan pak Isa Alamsyah belum terkenal di kalangan ibu-ibu. Kalau Bram mungkin ibu-ibu kenal.

Akhirnya aku jawab dengan singkat. Tidak sedetail itu, tapi cukup untuk meyakinkan ibu.

“Ya sudah, jadinya besok Diah ke Pasar Minggu atau Kalibata?” Alhamdulilllah, ibu percaya. Tinggal urusan tempat pertemuanku dan Mba Diah dimana. Tak mungkin di Cikini, karena Mba Diah ternyata tidak bisa naik kereta sendiri.

Di akhir kalimatnya ibu berucap, “Terima kasih ya Laila, ibu seneng. Nanti hati-hati ya… semoga kebaikanmu dibalas oleh Allah.”

Kembali, syukur menghias bibirku. Kepercayaan ibu dan bapak adalah segalanya. Meski begitu, aku tak mengerti maksud dari kebaikan yang ibu katakan.

Satu masalah terselesaikan. Aku kembali lagi ke belakang untuk meneruskan cuci mencuci. Tapi tak lama, hanphone berdering kembali. Di layar tertera nama Mba Diah. Duh, apa lagi? Aku khawatir jika nanti kabar yang kuterima adalah kabar buruk.

Tak ada pilihan, telepon itu harus kujawab. Dan suara yang terdengar ternyata bukan suara Mba Diah. Tapi mas Rama, kakaknya Mba Diah. Itu juga hanya menanyakan perihal tempat penjemputan. Di Kalibata atau Pasar Minggu. Ku jawab dengan mantap bahwa nanti aku akan menjemput Mba di Kalibata. Meski bibir digigit, takut tak tepat waktu sampai di Cikini nanti.

Keesokan harinya hati ini masih saja takut. Takut telat dan takut tak diberi izin oleh bos. Sampai jam dua belas siang aku masih belum meminta izin bos untuk pulang lebih awal. Padahal aku bermaksud meminta izin jam tiga sore.

Meski takut, akhirnya aku meminta izin kepada bos. Alhamdulillah, izin itu diberikan dengan gampangnya. Jantung belum kembali berdegub normal, jam 2 lewat. Sebentar lagi.

Jarum jam sudah ada pada angka tiga. Aku mulai siap-siap dan tara…. Si bos bilang, “Sebentar ya, La, jangan pergi dulu. Aku titip dulu, mau beli printer. Gak ada orang lagi sih.”

Aku terhenyak, hanya bisa tersenyum kecut dan mengiyakan. Hati kembali bergemuruh. Tapi bantuan lain datang, seseorang yang menawarkan jasa antar ke Kalibata dengan motornya. Ah, syukurlah… Dan waktu pun berjalan dengan cepatnya. Aku dengan sangat terpaksa meninggalkan toko dan pergi tanpa pamit langsung. Syukurnya, tidak sampai sepuluh menit si bos sudah kembali ke toko. Plong. Tinggal satu lagi yang harus di hadapai, pamit dengan bapak Mba Diah.

Sampai di stasiun Kalibata tak perlu bingung mencari Mba ku itu. ia sudah dulu menghampiriku. Setelah berterima kasih pada yang mengantar aku langsung menuju bapak. Lelaki tua itu tersenyum ke arahku. Dengan segala kekuatan yang ada aku langsung nyerocos kesana-kemari menjelaskan mengenai perjalanan ini dan meminta maaf karena sudah merepotkan.

Dia tidak marah, kawan. Hanya memperingatkan supaya hati-hati di jalan dan selamat sampai tujuan. Alhamdulillah. Dalam hati aku meyakinkan diri, oke bapak, anakmu aman bersamaku.

Tak banyak tingkah, kita langsung membeli tiket dan menaiki kereta jurusan kota. Tidak perlu menunggu karena kereta sebentar lagi datang. Dan, yeeaaa…. Akhirnya naik kereta juga.

Dalam perjalanan aku tanya pada Mba Diah, apakah dia pernah naik kereta.

“Pernah, tapi gak tau tempat,” jelasnya. Salahku jika kemarin menyuruhnya untuk naik kereta ke Cikini. Untung saja tidak.

“Mba dengar?” Saat itu kotak informasi menyuarakan stasiun akan di tuju.

Dia menggeleng, “Gak dengar, Laila.”

Aku ber “oh” dalam hati. Itu alasan mengapa ibu-bapak sangat khwatir dengan adanya perjalanan kereta ini. Ya ampun, Pa… maafin ila yaang lupa bahwa Mba Diah itu “spesial”.

0 komentar:

Posting Komentar