Rabu, 21 Mei 2014

Dua Janda

Tiga tahun sudah berlalu, waktu yang terhitung lama tapi tak terasa saat kita berada diakhirnya. Surat kelulusan pun telah dibagikan. Aku bersyukur, tak ada nilai yang mengecewakan. Jelas terpampang wajah ceriaku saat nilai diumumkan. Hari itu aku bahagia, tapi tidak untuk seminggu kemudian. Karena saat itulah aku telah resmi menjadi lulusan siap kerja.


Aku benar-benar kalut atas hal ini. Kemana aku harus bekerja? Tidak ada sedikit pun gambaran yang tersedia. Menelpon sana-sini, namun hasilnya nihil. Begitupun beberapa lamaran yang dilayangkan, semuanya tak ada kabar. Alhasil, aku menjadi PENGACARA alias pengangguran tanpa acara. Tak punya uang sepeserpun, dan malu jika harus minta kepada orang tua.


Sebulan berlalu, pekerjaan tak kunjung datang. Disaat inilah goncangan iman sangat terasa. Bagaimana syaiton menghasut diri ini untuk putus asa. Dan entah mengapa rasanya jalan syaiton untuk menghasutku sangatlah lancar. Aku mudah menyalahkan Allah saat itu. Bertanya, mengapa dan mengapa aku tak mendapatkan pekerjaan selama berbulan-bulan. Uang habis, Allah pelit. Aku sungguh terlena dengan hasutan syaitan.


Disaat terpuruk seperti itu, aku mendapat kabar buruk dari seorang ibu yang sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Katanya ia akan di operasi. Sedih hati ini mendengarnya, terlebih aku tak bisa membantu secara materi kepada ibuku yang satu itu. Ternyata berita duka yang ia sampaikan belum tuntas, saat itu pula ternyata Mamah (panggilanku padanya) ditinggal nikah lagi oleh Bapak (suami Mamah). Lagi-lagi hatiku sakit. Tak tega melihat Mamah harus mengurusi dirinya sendiri yang sedang sakit, berikut ketiga anaknya. Beruntung si sulung seorang gadis dewasa yang bisa diandalkan.


Singkat cerita, operasi lancar. Semua senang, tapi tentu tak begitu senang karena suami atau ayah yang biasa berada di sana tidak ada. Artinya, mamah dalam keadaan sakit pun harus menjadi tulang punggung keluarga.


oOo


Tak kunjung mendapat panggilan aku putuskan untuk pergi ke Jakarta, tempat dimana paman dan bibi bermukim. Sebulan lebih aku hidup di rumah kontrakan itu, namun tak jua dapat pekerjaan. Aku benar-benar terpuruk. Aku hanya menerima nasehat untuk terus sabar menunggu dari seorang tetangga, janda dengan tiga orang anak.


Syaiton merasuki pikiranku lagi, menjadikan ia lebih sesat. Saat itu aku benar-benar mengutuk Allah, menyumpah serapahi-Nya. Keadaanku yang tak memiliki sepeser pun  uang sungguhlah menyedihkan. Apakah Allah sudah buta? Tanyaku waktu itu.


Tapi suatu malam entah dari mana pikiran ini muncul. Terbayang wajah kedua janda yang aku kenal. Satu yang aku panggil Mamah, dan satu lagi adalah tetangga di Jakarta. Mereka sama-sama janda dan memiliki tiga orang anak yang masih memerlukan uang sekolah, meski beda cerita pisahnya.


Aku mulai membayangkan Mamah, keadaan hidup yang asalnya memberi jadi diberi. Makanan berlimpah, menjadi sangat minim. Aku tahu itu, tak mudah bagi mereka untuk membiasakan diri dengan situasi seperti itu. Kerja Mamah hanya guru TK, anaknya yang sulung hanya seorang bidan lulusan baru yang bekerja dengan bayaran minim. Dan dua anak lain masih berada di bangku sekolah, bahkan yang bungsu masih SD.


Berbeda dengan tetanggaku, dia janda ditinggal mati. Pekerjaannya serabutan, tapi masih dalam ruang lingkup masak. Uang pensiunan suami yang ada setiap bulan tak cukup untuk membiayai dua anak yang bersekolah di SMA dan si bungsu di SD.


Dari kehidupan kedua janda diatas, jika kita logikakan dalam  penghitungan ekonomi dimana income harus lebih besar dari pengeluaran, tentulah mereka terus mengalami masa kritis. Kerugian yang parah. Sehingga dalam ilmu ekonomi orang itu tidak akan bertahan hidup. Tapi coba lihat keduanya, masih dapat dijumpai. Meskipun kadang bingung mencari uang, tapi mereka masih bisa makan. Dan juga masih bisa menyekolahkan anak-anaknya.


Aku tersentak pikiranku sendiri. Kalau janda beranak tiga saja masih hidup dengan keuangan yang minim, apalagi aku yang belum mempunyai tanggungan. Jika Allah buta, Ia tak akan memberikan penghidupan yang layak bagi kedua janda tersebut. Jika Ia tak peduli, mungkin anak-anaknya sudah menjadi gembel di jalanan.


 Aku sadar, semiskin apapun kita tidak boleh menggrutu apalagi menyalahkan Allah. Mengingat pemberian-Nya sangat berlimpah. Meskipun tidak punya uang bukan alasan untuk tidak bersyukur dengan rezeki yang telah Ia berikan. Bersyukur karena menganggur aku punya waktu untuk belajar, bermain, atau hanya sekedar jalan-jalan sore. Tapi tetap harus terus berusaha lebih keras mencari pekerjaan.


Semenjak saat itu, ketika down aku selalu berulang kali bertanya pada diriku sendiri,  Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman [55] )

oOo

Tulisan ini diikut sertakan dalam GiveAway KEPING HATI 

0 komentar:

Posting Komentar