Tiga tahun sudah
berlalu, waktu yang terhitung lama tapi tak terasa saat kita berada diakhirnya.
Surat kelulusan pun telah dibagikan. Aku bersyukur, tak ada nilai yang
mengecewakan. Jelas terpampang wajah ceriaku saat nilai diumumkan. Hari itu aku
bahagia, tapi tidak untuk seminggu kemudian. Karena saat itulah aku telah resmi
menjadi lulusan siap kerja.
Aku benar-benar kalut
atas hal ini. Kemana aku harus bekerja? Tidak ada sedikit pun gambaran yang
tersedia. Menelpon sana-sini, namun hasilnya nihil. Begitupun beberapa lamaran
yang dilayangkan, semuanya tak ada kabar. Alhasil, aku menjadi PENGACARA alias
pengangguran tanpa acara. Tak punya uang sepeserpun, dan malu jika harus minta
kepada orang tua.
Sebulan berlalu, pekerjaan
tak kunjung datang. Disaat inilah goncangan iman sangat terasa. Bagaimana
syaiton menghasut diri ini untuk putus asa. Dan entah mengapa rasanya jalan
syaiton untuk menghasutku sangatlah lancar. Aku mudah menyalahkan Allah saat
itu. Bertanya, mengapa dan mengapa aku tak mendapatkan pekerjaan selama
berbulan-bulan. Uang habis, Allah pelit. Aku sungguh terlena dengan hasutan
syaitan.
Disaat terpuruk
seperti itu, aku mendapat kabar buruk dari seorang ibu yang sudah aku anggap sebagai
ibuku sendiri. Katanya ia akan di operasi. Sedih hati ini mendengarnya,
terlebih aku tak bisa membantu secara materi kepada ibuku yang satu itu.
Ternyata berita duka yang ia sampaikan belum tuntas, saat itu pula ternyata
Mamah (panggilanku padanya) ditinggal nikah lagi oleh Bapak (suami Mamah).
Lagi-lagi hatiku sakit. Tak tega melihat Mamah harus mengurusi dirinya sendiri
yang sedang sakit, berikut ketiga anaknya. Beruntung si sulung seorang gadis
dewasa yang bisa diandalkan.
Singkat cerita,
operasi lancar. Semua senang, tapi tentu tak begitu senang karena suami atau
ayah yang biasa berada di sana tidak ada. Artinya, mamah dalam keadaan sakit
pun harus menjadi tulang punggung keluarga.
oOo
Tak kunjung mendapat
panggilan aku putuskan untuk pergi ke Jakarta, tempat dimana paman dan bibi
bermukim. Sebulan lebih aku hidup di rumah kontrakan itu, namun tak jua dapat
pekerjaan. Aku benar-benar terpuruk. Aku hanya menerima nasehat untuk terus
sabar menunggu dari seorang tetangga, janda dengan tiga orang anak.
Syaiton merasuki
pikiranku lagi, menjadikan ia lebih sesat. Saat itu aku benar-benar mengutuk
Allah, menyumpah serapahi-Nya. Keadaanku yang tak memiliki sepeser pun uang sungguhlah menyedihkan. Apakah Allah
sudah buta? Tanyaku waktu itu.
Tapi suatu malam entah
dari mana pikiran ini muncul. Terbayang wajah kedua janda yang aku kenal. Satu
yang aku panggil Mamah, dan satu lagi adalah tetangga di Jakarta. Mereka
sama-sama janda dan memiliki tiga orang anak yang masih memerlukan uang
sekolah, meski beda cerita pisahnya.
Aku mulai membayangkan
Mamah, keadaan hidup yang asalnya memberi jadi diberi. Makanan berlimpah,
menjadi sangat minim. Aku tahu itu, tak mudah bagi mereka untuk membiasakan
diri dengan situasi seperti itu. Kerja Mamah hanya guru TK, anaknya yang sulung
hanya seorang bidan lulusan baru yang bekerja dengan bayaran minim. Dan dua
anak lain masih berada di bangku sekolah, bahkan yang bungsu masih SD.
Berbeda dengan
tetanggaku, dia janda ditinggal mati. Pekerjaannya serabutan, tapi masih dalam
ruang lingkup masak. Uang pensiunan suami yang ada setiap bulan tak cukup untuk
membiayai dua anak yang bersekolah di SMA dan si bungsu di SD.
Dari kehidupan kedua
janda diatas, jika kita logikakan dalam
penghitungan ekonomi dimana income harus lebih besar dari pengeluaran,
tentulah mereka terus mengalami masa kritis. Kerugian yang parah. Sehingga
dalam ilmu ekonomi orang itu tidak akan bertahan hidup. Tapi coba lihat
keduanya, masih dapat dijumpai. Meskipun kadang bingung mencari uang, tapi
mereka masih bisa makan. Dan juga masih bisa menyekolahkan anak-anaknya.
Aku tersentak
pikiranku sendiri. Kalau janda beranak tiga saja masih hidup dengan keuangan
yang minim, apalagi aku yang belum mempunyai tanggungan. Jika Allah buta, Ia
tak akan memberikan penghidupan yang layak bagi kedua janda tersebut. Jika Ia
tak peduli, mungkin anak-anaknya sudah menjadi gembel di jalanan.
Aku sadar, semiskin apapun kita tidak boleh
menggrutu apalagi menyalahkan Allah. Mengingat pemberian-Nya sangat berlimpah.
Meskipun tidak punya uang bukan alasan untuk tidak bersyukur dengan rezeki yang
telah Ia berikan. Bersyukur karena menganggur aku punya waktu untuk belajar,
bermain, atau hanya sekedar jalan-jalan sore. Tapi tetap harus terus berusaha
lebih keras mencari pekerjaan.
Semenjak saat itu,
ketika down aku selalu berulang kali bertanya pada diriku sendiri, ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS.
Ar-Rahman [55] )
oOo
Tulisan ini diikut sertakan dalam GiveAway KEPING HATI

0 komentar:
Posting Komentar