Keduanya berjalan dengan langkah yang
dipercepat. Bahkan sesekali mereka terlihat setengah berlari. Si bapak berada
di depan, tangannya mengait pegangan gerobak yang sudah kosong isinya dan Si
Ibu membantu mendorong dibelakang. Bukan hal mudah bagi mereka untuk pulang ke rumah
dengan secepat kilat, mengingat jalanan becek, lubang dimana-mana dan banyak
bebatuan yang menghambat perjalanan. Semuanya serasa maklum karena jalan yang
mereka lalui bukanlah jalan komplek orang kaya, melainkan gang sempit padat pemukim
dibagian selatan Jakarta yang dihuni ratusan orang miskin yang kebanyakan tanpa
KTP. Butuh setengah jam untuk sampai ke rumah, atau mungkin lebih tepatnya disebut
gubuk. Karena bangunan yang mereka sebut rumah itu berlapiskan triplek dan
papan-papan yang mereka dapatkan hasil memulung, dan untuk atap cukup dengan
seng bekas kandang ayam haji Sanusi.
Setengah jam berlalu, mereka akhirnya sampai
dengan terengah-engah. Belum lagi keringat yang membanjiri kaos dekil
mereka. Hari ini matahari sedang
mentereng, ia tak lagi mengalah pada hujan yang biasanya mengguyur setiap
siang.
“Ayo cepat Bu.” Perintah Bapak seraya membuka
kait pintu rumah yang terbuat dari besi karatan.
Si Ibu mengerti bahwa hal ini harus dilakukan
dengan cepat. Tak boleh ia membuang waktu hanya untuk mengambil jemuran yang
sudah kering. Buru-buru ia masuk mengikuti suaminya.
“Sebentar Pak, aku cuci muka dulu ya.”
“Ya ampun Bu, tar kalau gak cepet nanti kita ketahuan.”
Yang disuruh, manut. Ibu tak jadi keluar rumah
hanya untuk cuci muka di ember besar depan rumah. Ia langsung menghampiri Bapak
yang sedang membuka bajunya.
“Iya bener nih Bu, panas banget yah.” Mereka
tak punya kipas apalagi AC untuk mendinginkan tubuh, cukup dengan kardus yang
dikipas-kipasi ke badan saja.
“Ya Pak, panas
banget.” Angguknya pada sang suami. “Katanya mau cepet, eh malah santai-santai
kipasan gitu.”
“Iya, iya. Udah buka
sekarang!”
“Beneran nih pak, kok
Ibu takut yah.”
“Mending sekarang Bu.
Mumpung Raranya sekolah.”
“Gimana caranya?”
“Kocok.”
“Susah keluarnya pak.”
“Nih, kayak gini bu.”
“Yaudah bapak yang
kocok.”
“Gak enak, Ibu aja.
Bapak yang tarik.”
“Aduh pak, pelan-pelan
dong nariknya.”
“Iya maaf.”
Kocokan dan tarikan
telah mereka lewati bersama. Setengah jam sudah semuanya berjalan. Peluh yang
ada ditubuh mereka pun bertambah. Semua berjalan lancar digubuk itu. Dan
disekolahpun terasa lancar tanpa guru.
Hari ini, ada rapat
guru mendadak. Murid kelas dua yang masuk jam sepuluh harus dipulangkan jam
satu siang, padahal mereka biasanya keluar sekolah jam tiga. Bukan rahasia lagi
jika guru rapat anak-anak murid begitu bahagia dengan kesempatan pulang lebih
awal seperti ini, begitu juga Rara. Ia senang pulang awal karena dirinya bisa
membantu Ibu dan juga Bapak untuk mencari barang rongsokan. Maka pulanglah ia
dengan wajah ceria.
“Ra, main dulu ke
rumah Idan yuk.” Ajak Idan saat Rara hendak berbelok ke gang arah rumahnya.
“Nanti aja ya Dan, kan
sepulang ngaji bisa main. Oke!” Jempol Rara teracung.
“Oke deh.” Idan juga
mengacungkan jempolnya. Ia tahu pasti Rara akan pergi ke jalanan bersama para
pemulung lain untuk membantu Ibu dan Bapak mereka.
Berbeloklah Rara ke
gang arah rumahnya. Disudut sana rumah Rara berada. Diantara ruamah-rumah lain,
rumah Rara lah yang terlihat paling kecil. Hanya berukuran 3x2 dan tanpa sekat,
karena tidak ada ruangan lain. Hanya satu ruangan yang dijadikan tempat tidur,
tempat makan dan juga tempat bekerja membersihkan beberapa barang yang besok
akan dijual.
Kaki kecil itu sudah
sampai. Didepan ia menemukan gerobak orang tuanya. “Tumben.” Ia tahu biasanya
Ibu dan Bapak akan pulang sore saat dirinya pulang sekolah.
Tanpa babibu, Rara
langsung membuka pintu yang tidak dikunci. Baru dua langkah ia kerahkan, Rara
langsung terperangah dengan apa yang Ibu dan Bapaknya lakukan. Benda yang Ibu
pegang dan barang yang Bapak tarik, Rara tak bisa mempercayainya.
“Ibu, Bapak. Kalian
sedang apa?” Tanya Rara dengan kaki setengah gemetar.
“Rara!” Ucap Ibu dan
Bapak hampir bersamaan. Kaget. Apa yang mereka berdua lakukan terhenti.
“Kok kamu sudah pulang
Ra?” Tanya ibu ketika hendak menghampiri Rara.
“Gak penting Rara
pulang cepet, sekarang jelasin apa yang Ibu sama Bapak lakuin.” Getaran di kaki
Rara kini naik ke kerongkongannya. Suranya parau untuk berteriak menahan
emosi. Cairan hangat kini berkumpul
disudut-sudut matanya, siap untuk meluncur deras.
“Ini sayang, Ibu..
Emmm Anu...” Ibu tak tahu harus menjelaskan bagaimana. Bapakpun tak mau ikut
campur saat menjelaskan apa yang mereka lakukan pada Rara.
“Ibu sama Bapak
jahat.” Teriak Rara. Lalu berlari keluar rumah, tempat yang Rara tuju adalah
rumah Idan.
Rara dengan amarah dan
tangis yang akan meledak meninggalkan Ibu dan Bapaknya dalam kebingungan.
Keduanya tak tahu harus bagaimana.
“Sudah Bu, ngomong
sama Rara nya nanti. Kita selesain aja dulu ini, setelah ke pasar baru kita
ngomong ke Rara. Paling dia di rumah Idan.” Jelas Bapak penuh perhatian. Lalu
ia kembali memunguti koin yang berserakan diantara mereka.
Sedangkan hati seorang
Ibu tak bisa berkata “sudahlah” untuk buah hatinya. Ia merasa bukanlah ibu yang
baik bagi Rara. Tapi ia juga tak dapat melakukan hal yang lebih dari ini, hanya
beberapa tetes hangat yang meluncur dipipinya yang dapat ia jelaskan pada Rara.
oOo
“Idan… dan.. Idan…”
Kedua pipi Rara basah. Mengetuk pintu rumah Idan adalah sisa tenaganya setelah
berlari sambil menangis tadi.
“Iya…” Pintu itu
dibuka.
“I..dan… hiks hiks,
Rara mau ce… hiks…rita.” Keluh Rara pada anak lelaki sebayanya itu.
“Kamu di jahatin sama
si Komar lagi ya Ra?” Idan menengok kanan kiri. Mencari sosok anak yang
bertubuh gembil dengan kulit hitam yang biasa berbuat onar.
“Eng…gak…” Rara
menggeleng lemah.
“Terus kenapa?” Tanya
Idan keheranan.
“Makanya Rara pengen
cerita Idann… “ Rara mulai geram pada teman itu. Ia lalu meninggalkan sepatunya
di ambang pintu, tas cangklok yang ia kenakanpun dilempar sembarang arah. Ia
memposisikan diri duduk didepan TV. Idan mengikuti. Dan membungkuk sebentar
untuk mengambil lalu menaruh tas Rara di atas kursi tamu.
“Cerita apa?” Sekarang
giliran Idan yang memposisikan diri duduk di depan Rara, membelakangi TV.
“Idan inget sama
celengan Dora yang Rara punya? Itu tuh yang Rara beli di pasar malem.” Ceritapun
dimulai meski dengan sesenggukan.
“Iya. Ilang?” Tanya
Idan penasaran.
Rara menggeleneng. Lalu
ia melanjutkan ceritanya dengan jeda sesenggukan dan mengusap ingus di hidung.
“Tadi pas Rara pulang,
Rara liat Ibu sama Bapak berdua lagi pegangin celengan. Eh, enggak deh. Ibu
yang pegang celengan, terus Bapak yang narik uangnya. Dan… masa Bapak sam Ibu
tega sih ngambil uang Rara? Tahu gak, uang yang Bapak pegang itu lima puluh
ribu yang Idan kasih ke Rara. Yang waktu itu kita jualin gambar tempel terus
uangnya Idan kasih ke Rara.” Mengusap air mata yang mengalir lagi di pipi.
“Dan, itu kan maksudnya Rara kumpulin biar bisa daftar buat ikut jalan-jalan
yang disekolah itu. Acaranya kan satu bulan lagi, Rara mau ikut Dan….” Hiks.
Idan manggut-manggut.
Seperti orang dewasa yang menenangkan temannya. Ia kemudian menepuk pundak Rara
dua kali. Dengan tatapan mata tajam ia pun berkata, “Tenang, Idan tau
solusinya.”. Rara bengong. Tak mengerti dengan ucapan Idan, mau bertanya tapi
tidak sempat karena Idan langsung memasuki kamarnya.
“Ini solusinya Ra.”
Idan keluar dari kamar dengan mengacungkan uang sepuluh ribu.
Kembali lagi Rara
kebingungan dengan maksud ‘solusi’ yang Idan tawarkan. Dan sepertinya Idan
mengerti kebingungan yang Rara tunjukan pada raut wajahnya.
“Ini, kita beli eskrim
pake uang ini.” Ucap Idan sumringah.
“Ih kok beli eskrim
Dan?” Tangis Rara sudah mereda. Hanya sesekali ingus di hidungnya keluar tanpa
permisi, jadi Rara harus mengusapnya cepat.
“Iya, biar Rara gak
nangis lagi hehe…. Kalau gak mau yaudah, Idan beli eskrim buat sendir aja. Rara
gak dikasih.”
“Ih, Idan gitu. Yaudah
ayo.”
“Nah gitu dong, jangan
nangis lagi. Rara jelek kalau lagi nangis tau.”
“Idan juga jelek kalau
lagi pelit. Haha.”
Merekapun melenggang pergi ke warung untuk
membeli eskrim dan tanpa kesepakatan mereka sepakat untuk tidak membicarakan
hal itu lagi.
oOo
Sore harinya Ibu
dengan langkah yang cepat berbelok, menjauhi rumahnya. Hanya sesekali menyapa
para tetangga yang ada diberanda rumah mereka. Menampakan wajah yang datar dan
sedikit ulasan senyum yang dipaksakan.
Tujuannya satu, rumah
Idan. Teman sebaya anak tunggalnya itu. Mereka sudah bermain bersama sejak
mereka masih bayi. Karena faktor keterpaksaan kerja, ibu harus menitipkan Rara
ke teh Rina, Ibunya Idan. Jadi kalau ada apa-apa Rara pasti kesana.
Dan benar saja. Rara
ia temukan sedang main di teras rumah Idan.
“Rara” Panggil Ibu
pada bocah perempuan berkucir dua.
Saat Rara tahu yang
memanggil adalah ibunya, ia langsung berlari kedalam rumah. Menutup pintu
rapat-rapat dan berbisik pada Idan yang saat itu ada di dalam.
“Rara… sayang….”
Panggil ibu dengan nada bujukan lebih halus. Ia tahu anaknya masih marah
padanya.
“Kata Rara, Raranya
gak mau ketemu Ibu.” Idan membuka pintu. “Ibu jahat sih… masa celengan Rara
diambil uangnya.” Lanjut bocah lelaki berkepala gundul itu.
Mendengar penjelasan
dari teman anknya itu, Ibu merasa dadanya kian sesak. Kalimat terakhir yang
anak itu ucapkan serasa palu yang dihantamkan ke ulu hatinya. Sakit.
Ibu menerobos masuk,
tak menghiraukan Idan yang berdiri dengan tangan bersidekap sepeti seorang
security.
“Rara sini
sayang.” Ibu berlutut, mensejajarkan
diri dengan Rara. Rara menghampiri ibunya tanpa kata.
“Ibu punya ini buat
Rara.” Ia keluarkan kalung emas berbandul ‘R’ dari plastik di sakunya. “Ini
yang ibu beli buat ulang tahun Rara besok.” Matanya mulai berkaca, meskipun
rasanya susah tapi Ibu tetep lanjut menjelaskan.
“Tadi pagi Ibu beli
ini ke Kho Liam. Ternyata uang ibu gak cukup buat beli ‘R’nya. Jadi pas siang
itu ibu balik lagi ke rumah buat minjem uang celengan kamu Ra. Terus setelah
dapat uang cukup Ibu beli huruf ‘R’nya. ‘R’ kan untuk Rara.” Meluncur juga air
bening di pipinya.
Melihat ibunya
menangis Rara ikut menangis.
“Tapi kenapa gak
bilang sama Rara dulu Bu?’ Tanyanya sendu.
“Kan biar kejutan
Rara, ibu kira uang ibu cukup. Tapi ternyata tidak, Ibu bukan ambil uang kamu,
tapi Ibu minjem. Nanti Bapak dan Ibu balikin uang kamu kok. Maafin ibu ya
sayang… Kamu sih tadi pulang sekolahnya kecepetan. Hehe…” Tutur Ibu dengan
bersenyum.
Menghadirkan senyum dalam pahit kenyataan yang
ia rasakan sungguh sakit. Hanya untuk membelikan hadiah ulang tahun berupa emas
setengah gram harus merendahkan diri dihadapan anaknya sendiri.
“Yaudah sekarang pake
yah… kan Rara yang ingin punya kalung ‘R’” Kemudian Ibu membelitkan rantai
kecil berbandul huruf ‘R’ itu ke leher Rara.
Rara belum berkata
apa-apa. Melihat Ibunya menangis ia menangis, melihat Ibunya tersenyum ia tak
bisa tersenyum.
“Ibu lupa ya? Uang itu
kan buat jalan-jalan sekolah Rara bu… acaranya sebulan lagi. Rara gak bisa
nabung 200 ribu selama sebulan. Jajan Rara aja sehari cuma tiga ribu.” Keluh
Rara dengan memerhatikan wajah Ibunya.
“Ibu ganti sayang, Ibu
ganti.” Kembali lagi ia mengangis.
Keduanya diam dalam
senyap. Tak ada lagi yang berbicara. Rara tahu tak semudah itu mengumpulkan
uang 200 ribu bagi kedua orang tuanya. Dan Ibu tahu ia tak bisa lagi melukai
anaknya.
“Bu, ini buat Ibu.
Soalnya ibu udah kasih Rara kalung ‘R’” Kata Idan sambil nyengir lalu menyodorkan
sebatang eskrim coklat bagiannya yang ia simpan di kulkas.
0 komentar:
Posting Komentar