Selasa, 25 Maret 2014

Rara atau Lara yang ada?



Keduanya berjalan dengan langkah yang dipercepat. Bahkan sesekali mereka terlihat setengah berlari. Si bapak berada di depan, tangannya mengait pegangan gerobak yang sudah kosong isinya dan Si Ibu membantu mendorong dibelakang. Bukan hal mudah bagi mereka untuk pulang ke rumah dengan secepat kilat, mengingat jalanan becek, lubang dimana-mana dan banyak bebatuan yang menghambat perjalanan. Semuanya serasa maklum karena jalan yang mereka lalui bukanlah jalan komplek orang kaya, melainkan gang sempit padat pemukim dibagian selatan Jakarta yang dihuni ratusan orang miskin yang kebanyakan tanpa KTP. Butuh setengah jam untuk sampai ke rumah, atau mungkin lebih tepatnya disebut gubuk. Karena bangunan yang mereka sebut rumah itu berlapiskan triplek dan papan-papan yang mereka dapatkan hasil memulung, dan untuk atap cukup dengan seng bekas kandang ayam  haji Sanusi.

Setengah jam berlalu, mereka akhirnya sampai dengan terengah-engah. Belum lagi keringat yang membanjiri kaos dekil mereka.  Hari ini matahari sedang mentereng, ia tak lagi mengalah pada hujan yang biasanya mengguyur setiap siang.

“Ayo cepat Bu.” Perintah Bapak seraya membuka kait pintu rumah yang terbuat dari besi karatan.

Si Ibu mengerti bahwa hal ini harus dilakukan dengan cepat. Tak boleh ia membuang waktu hanya untuk mengambil jemuran yang sudah kering. Buru-buru ia masuk mengikuti suaminya.

“Sebentar Pak, aku cuci muka dulu ya.”

“Ya ampun Bu, tar kalau gak cepet nanti kita ketahuan.”

Yang disuruh, manut. Ibu tak jadi keluar rumah hanya untuk cuci muka di ember besar depan rumah. Ia langsung menghampiri Bapak yang sedang membuka bajunya.

“Iya bener nih Bu, panas banget yah.” Mereka tak punya kipas apalagi AC untuk mendinginkan tubuh, cukup dengan kardus yang dikipas-kipasi ke badan saja.

“Ya Pak, panas banget.” Angguknya pada sang suami. “Katanya mau cepet, eh malah santai-santai kipasan gitu.”

“Iya, iya. Udah buka sekarang!”

“Beneran nih pak, kok Ibu takut yah.”

“Mending sekarang Bu. Mumpung Raranya sekolah.”

“Gimana caranya?”

“Kocok.”

“Susah keluarnya pak.”

“Nih, kayak gini bu.”

“Yaudah bapak yang kocok.”

“Gak enak, Ibu aja. Bapak yang tarik.”

“Aduh pak, pelan-pelan dong nariknya.”

“Iya maaf.”

Kocokan dan tarikan telah mereka lewati bersama. Setengah jam sudah semuanya berjalan. Peluh yang ada ditubuh mereka pun bertambah. Semua berjalan lancar digubuk itu. Dan disekolahpun terasa lancar tanpa guru.

Hari ini, ada rapat guru mendadak. Murid kelas dua yang masuk jam sepuluh harus dipulangkan jam satu siang, padahal mereka biasanya keluar sekolah jam tiga. Bukan rahasia lagi jika guru rapat anak-anak murid begitu bahagia dengan kesempatan pulang lebih awal seperti ini, begitu juga Rara. Ia senang pulang awal karena dirinya bisa membantu Ibu dan juga Bapak untuk mencari barang rongsokan. Maka pulanglah ia dengan wajah ceria.

“Ra, main dulu ke rumah Idan yuk.” Ajak Idan saat Rara hendak berbelok ke gang arah rumahnya.

“Nanti aja ya Dan, kan sepulang ngaji bisa main. Oke!” Jempol Rara teracung.

“Oke deh.” Idan juga mengacungkan jempolnya. Ia tahu pasti Rara akan pergi ke jalanan bersama para pemulung lain untuk membantu Ibu dan Bapak mereka.

Berbeloklah Rara ke gang arah rumahnya. Disudut sana rumah Rara berada. Diantara ruamah-rumah lain, rumah Rara lah yang terlihat paling kecil. Hanya berukuran 3x2 dan tanpa sekat, karena tidak ada ruangan lain. Hanya satu ruangan yang dijadikan tempat tidur, tempat makan dan juga tempat bekerja membersihkan beberapa barang yang besok akan dijual.

Kaki kecil itu sudah sampai. Didepan ia menemukan gerobak orang tuanya. “Tumben.” Ia tahu biasanya Ibu dan Bapak akan pulang sore saat dirinya pulang sekolah.

Tanpa babibu, Rara langsung membuka pintu yang tidak dikunci. Baru dua langkah ia kerahkan, Rara langsung terperangah dengan apa yang Ibu dan Bapaknya lakukan. Benda yang Ibu pegang dan barang yang Bapak tarik, Rara tak bisa mempercayainya.

“Ibu, Bapak. Kalian sedang apa?” Tanya Rara dengan kaki setengah gemetar.

“Rara!” Ucap Ibu dan Bapak hampir bersamaan. Kaget. Apa yang mereka berdua lakukan terhenti.

“Kok kamu sudah pulang Ra?” Tanya ibu ketika hendak menghampiri Rara.
“Gak penting Rara pulang cepet, sekarang jelasin apa yang Ibu sama Bapak lakuin.” Getaran di kaki Rara kini naik ke kerongkongannya. Suranya parau untuk berteriak menahan emosi.  Cairan hangat kini berkumpul disudut-sudut matanya, siap untuk meluncur deras.

“Ini sayang, Ibu.. Emmm Anu...” Ibu tak tahu harus menjelaskan bagaimana. Bapakpun tak mau ikut campur saat menjelaskan apa yang mereka lakukan pada Rara.

“Ibu sama Bapak jahat.” Teriak Rara. Lalu berlari keluar rumah, tempat yang Rara tuju adalah rumah Idan.

Rara dengan amarah dan tangis yang akan meledak meninggalkan Ibu dan Bapaknya dalam kebingungan. Keduanya tak tahu harus bagaimana.

“Sudah Bu, ngomong sama Rara nya nanti. Kita selesain aja dulu ini, setelah ke pasar baru kita ngomong ke Rara. Paling dia di rumah Idan.” Jelas Bapak penuh perhatian. Lalu ia kembali memunguti koin yang berserakan diantara mereka.

Sedangkan hati seorang Ibu tak bisa berkata “sudahlah” untuk buah hatinya. Ia merasa bukanlah ibu yang baik bagi Rara. Tapi ia juga tak dapat melakukan hal yang lebih dari ini, hanya beberapa tetes hangat yang meluncur dipipinya yang dapat ia jelaskan pada Rara.

oOo

“Idan… dan.. Idan…” Kedua pipi Rara basah. Mengetuk pintu rumah Idan adalah sisa tenaganya setelah berlari sambil menangis tadi.

“Iya…” Pintu itu dibuka.

“I..dan… hiks hiks, Rara mau ce… hiks…rita.” Keluh Rara pada anak lelaki sebayanya itu.

“Kamu di jahatin sama si Komar lagi ya Ra?” Idan menengok kanan kiri. Mencari sosok anak yang bertubuh gembil dengan kulit hitam yang biasa berbuat onar.

“Eng…gak…” Rara menggeleng lemah.

“Terus kenapa?” Tanya Idan keheranan.

“Makanya Rara pengen cerita Idann… “ Rara mulai geram pada teman itu. Ia lalu meninggalkan sepatunya di ambang pintu, tas cangklok yang ia kenakanpun dilempar sembarang arah. Ia memposisikan diri duduk didepan TV. Idan mengikuti. Dan membungkuk sebentar untuk mengambil lalu menaruh tas Rara di atas kursi tamu.

“Cerita apa?” Sekarang giliran Idan yang memposisikan diri duduk di depan Rara, membelakangi TV.

“Idan inget sama celengan Dora yang Rara punya? Itu tuh yang Rara beli di pasar malem.” Ceritapun dimulai meski dengan sesenggukan.

“Iya. Ilang?” Tanya Idan penasaran.

Rara menggeleneng. Lalu ia melanjutkan ceritanya dengan jeda sesenggukan dan mengusap ingus di hidung.

“Tadi pas Rara pulang, Rara liat Ibu sama Bapak berdua lagi pegangin celengan. Eh, enggak deh. Ibu yang pegang celengan, terus Bapak yang narik uangnya. Dan… masa Bapak sam Ibu tega sih ngambil uang Rara? Tahu gak, uang yang Bapak pegang itu lima puluh ribu yang Idan kasih ke Rara. Yang waktu itu kita jualin gambar tempel terus uangnya Idan kasih ke Rara.” Mengusap air mata yang mengalir lagi di pipi. “Dan, itu kan maksudnya Rara kumpulin biar bisa daftar buat ikut jalan-jalan yang disekolah itu. Acaranya kan satu bulan lagi, Rara mau ikut Dan….” Hiks.

Idan manggut-manggut. Seperti orang dewasa yang menenangkan temannya. Ia kemudian menepuk pundak Rara dua kali. Dengan tatapan mata tajam ia pun berkata, “Tenang, Idan tau solusinya.”. Rara bengong. Tak mengerti dengan ucapan Idan, mau bertanya tapi tidak sempat karena Idan langsung memasuki kamarnya.

“Ini solusinya Ra.” Idan keluar dari kamar dengan mengacungkan uang sepuluh ribu.

Kembali lagi Rara kebingungan dengan maksud ‘solusi’ yang Idan tawarkan. Dan sepertinya Idan mengerti kebingungan yang Rara tunjukan pada raut wajahnya.

“Ini, kita beli eskrim pake uang ini.” Ucap Idan sumringah.

“Ih kok beli eskrim Dan?” Tangis Rara sudah mereda. Hanya sesekali ingus di hidungnya keluar tanpa permisi, jadi Rara harus mengusapnya cepat.

“Iya, biar Rara gak nangis lagi hehe…. Kalau gak mau yaudah, Idan beli eskrim buat sendir aja. Rara gak dikasih.”

“Ih, Idan gitu. Yaudah ayo.”

“Nah gitu dong, jangan nangis lagi. Rara jelek kalau lagi nangis tau.”

“Idan juga jelek kalau lagi pelit. Haha.”

 Merekapun melenggang pergi ke warung untuk membeli eskrim dan tanpa kesepakatan mereka sepakat untuk tidak membicarakan hal itu lagi.

oOo

Sore harinya Ibu dengan langkah yang cepat berbelok, menjauhi rumahnya. Hanya sesekali menyapa para tetangga yang ada diberanda rumah mereka. Menampakan wajah yang datar dan sedikit ulasan senyum yang dipaksakan.

Tujuannya satu, rumah Idan. Teman sebaya anak tunggalnya itu. Mereka sudah bermain bersama sejak mereka masih bayi. Karena faktor keterpaksaan kerja, ibu harus menitipkan Rara ke teh Rina, Ibunya Idan. Jadi kalau ada apa-apa Rara pasti kesana.

Dan benar saja. Rara ia temukan sedang main di teras rumah Idan.

“Rara” Panggil Ibu pada bocah perempuan berkucir dua.

Saat Rara tahu yang memanggil adalah ibunya, ia langsung berlari kedalam rumah. Menutup pintu rapat-rapat dan berbisik pada Idan yang saat itu ada di dalam.

“Rara… sayang….” Panggil ibu dengan nada bujukan lebih halus. Ia tahu anaknya masih marah padanya.

“Kata Rara, Raranya gak mau ketemu Ibu.” Idan membuka pintu. “Ibu jahat sih… masa celengan Rara diambil uangnya.” Lanjut bocah lelaki berkepala gundul itu.

Mendengar penjelasan dari teman anknya itu, Ibu merasa dadanya kian sesak. Kalimat terakhir yang anak itu ucapkan serasa palu yang dihantamkan ke ulu hatinya. Sakit.

Ibu menerobos masuk, tak menghiraukan Idan yang berdiri dengan tangan bersidekap sepeti seorang security.

“Rara sini sayang.”  Ibu berlutut, mensejajarkan diri dengan Rara. Rara menghampiri ibunya tanpa kata.

“Ibu punya ini buat Rara.” Ia keluarkan kalung emas berbandul ‘R’ dari plastik di sakunya. “Ini yang ibu beli buat ulang tahun Rara besok.” Matanya mulai berkaca, meskipun rasanya susah tapi Ibu tetep lanjut menjelaskan.

“Tadi pagi Ibu beli ini ke Kho Liam. Ternyata uang ibu gak cukup buat beli ‘R’nya. Jadi pas siang itu ibu balik lagi ke rumah buat minjem uang celengan kamu Ra. Terus setelah dapat uang cukup Ibu beli huruf ‘R’nya. ‘R’ kan untuk Rara.” Meluncur juga air bening di pipinya.

Melihat ibunya menangis Rara ikut menangis.

“Tapi kenapa gak bilang sama Rara dulu Bu?’ Tanyanya sendu.

“Kan biar kejutan Rara, ibu kira uang ibu cukup. Tapi ternyata tidak, Ibu bukan ambil uang kamu, tapi Ibu minjem. Nanti Bapak dan Ibu balikin uang kamu kok. Maafin ibu ya sayang… Kamu sih tadi pulang sekolahnya kecepetan. Hehe…” Tutur Ibu dengan bersenyum.

 Menghadirkan senyum dalam pahit kenyataan yang ia rasakan sungguh sakit. Hanya untuk membelikan hadiah ulang tahun berupa emas setengah gram harus merendahkan diri dihadapan anaknya sendiri.

“Yaudah sekarang pake yah… kan Rara yang ingin punya kalung ‘R’” Kemudian Ibu membelitkan rantai kecil berbandul huruf ‘R’ itu ke leher Rara.

Rara belum berkata apa-apa. Melihat Ibunya menangis ia menangis, melihat Ibunya tersenyum ia tak bisa tersenyum.

“Ibu lupa ya? Uang itu kan buat jalan-jalan sekolah Rara bu… acaranya sebulan lagi. Rara gak bisa nabung 200 ribu selama sebulan. Jajan Rara aja sehari cuma tiga ribu.” Keluh Rara dengan memerhatikan wajah Ibunya.

“Ibu ganti sayang, Ibu ganti.” Kembali lagi ia mengangis.

Keduanya diam dalam senyap. Tak ada lagi yang berbicara. Rara tahu tak semudah itu mengumpulkan uang 200 ribu bagi kedua orang tuanya. Dan Ibu tahu ia tak bisa lagi melukai anaknya.

“Bu, ini buat Ibu. Soalnya ibu udah kasih Rara kalung ‘R’” Kata Idan sambil nyengir lalu menyodorkan sebatang eskrim coklat bagiannya yang ia simpan di kulkas.




0 komentar:

Posting Komentar