Tak banyak orang tahu kalau saya punya temen tuna rungu. Yah,
sudah hampir satu tahun lebih saya temenan sama dia. Dia perempuan, cantik dan
luar biasa baiknya. Mungkin karena itu juga saya senang berteman dengannya. Kali
ini saya hanya ingin membagi pengalaman bagaimana sikap kita seharusnya jika
punya teman atau saudara yang punya kekurangan pendengaran.
Pertama saya bingung harus berkomunikasi dengan cara
bagaimana dengan dia. Untungnya Mba ku itu masih bisa mendengar dan berbicara
walau harus memakai alat bantu dengar dan bicaranya kurang jelas. Tapi seringkali
kita gak nyambug kalau ngobrol. Karena itu akhirnya saya meminta dia untuk
mengajarkan bahasa isyarat kepada saya. Alphabet dan angka dalam bahasa isyarat
telah saya kuasai, selebihnya saya menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah
untuk mempertegas kalimat yang saya maksud.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting saya apabila berbicara
sama Mba. (panggilan saya ke dia “Mba”)
1. 1. Jangan
ngomong Alay, disingkat, bahasa inggris dan kata yang tidak baku.
Kenapa gak boleh ngomong alay? Karena
kata alay itu sering berubah disetiap zamannya dan yang mba pelajari hanya
kata-kata wajar dalam sehari-hari bercakap.
Juga gak boleh disingkat, kecuali dia mengerti apa yang kita singkat. Tentu
saja jika teman tuna rungu kita gak belajar bahasa inggris pasti dia tidak
mengerti. Karena pelafalan dan tulisan bahasa inggris tidak sama. Juga harus
bicara bahasa baku, gak bertele-tele.
Contoh dasar yang bisa diambil
kata “Nyari” ketika saya bilang itu dia tidak mengerti. Setelah saya
mengatakannya dalam bahasa isyarat dia baru tau kalau yang saya maksud adalah
kata “Cari”.
2. 2. Jangan
terlalu cepet kalau ngomong.
Saking saya melihat Mba seperti orang normal biasa saya sering lupa kalau
lagi ngobrol. Nyerocos kesana kemari tanpa jeda. Dan pada akhirnya dia
bertanya, “ngomong apa?”. Haha. Itu lucu bagi saya, karena saya harus mengulang
semua perkataan saya sendiri dengan pelan. Bukan karena menertawakannya.
Suatu kali saya iseng nanya sama mba, soalnya saya benar-benar gak tahu. “Kalau saya lagi ngobrol sama yang lain mba
ngerti gak?” dan dia jawab enggak. Dalam hati saya ngakak. Soalnya saya kalau
ngombrol didepan dia benar-benar lupa kalau dia punya kekurangan. Dan ini
menjadi pelajaran kedua saya.
3. 3. Jangan
memanggil atau menegur dia dari belakang
Peraturan ketiga ini wajib ditaati jika tidak siap-siap anda malu sendiri
atau sakit hati karena dia gak noleh. Iyalah, selain dari alat pendengaran yang
iya gunakan. Ia juga berkomunikasi dengan melihat gerak bibir dan ekspresi
wajah si pembicara.
Karena terlihat sangat dekat sama mba, banyak orang yang mengira kalau
saya juga tuna rungu. Bahkan keluarganya sendiri. Gak salah sih. Saya juga gak
marah kalau disangka seperti itu. Malah keseringan ngakak kalau dengernya,
serasa nipu orang.
Satu hal lagi. Ternyata, meskipun Mba mudah beradabtasi. Berperan seolah-olah
tak punya kekurangan bila berada si samping saya, dalam hatinya juga ada rasa
minder. Saya merasakan hal itu saat saya mengajak dia untuk masuk ke area
kampus. Gak masuk sih sebenernya, Cuma suruh dia ngejemput didepan kampus. Oh ya,
dia lihai pake motor loh dan dia yang mengajarkan saya berkendara dengan sepeda
bermesin itu. Keren kan.
Kembali ke masalah kampus. Yah,
dia yang biasa jemput saya kalau kita mau main. Dan dia gak pernah mau diajak
ke lingkungan pertemanan saya. Selama ini saya yang diajak dia kelingkungannya.
Nah ini mungkin yang menjadi dasar asumsi teman-teman saya. Mengira saya jalan
dengan laki-laki yang tak ingin mereka ketahui, padahal bukan. Dan saya tak
ingin menjelaskan panjang lebar pada mereka yang hanya akan dijawab ohhh. Saya bukan
artis yang perlu konferensi pers. Haha.
Itulah pengalaman saya selama ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi
teman-teman semua. =)
@Alfiyyah.
0 komentar:
Posting Komentar