Jumat, 14 Februari 2014

Mba Ku


Tak banyak orang tahu kalau saya punya temen tuna rungu. Yah, sudah hampir satu tahun lebih saya temenan sama dia. Dia perempuan, cantik dan luar biasa baiknya. Mungkin karena itu juga saya senang berteman dengannya. Kali ini saya hanya ingin membagi pengalaman bagaimana sikap kita seharusnya jika punya teman atau saudara yang punya kekurangan pendengaran.
Pertama saya bingung harus berkomunikasi dengan cara bagaimana dengan dia. Untungnya Mba ku itu masih bisa mendengar dan berbicara walau harus memakai alat bantu dengar dan bicaranya kurang jelas. Tapi seringkali kita gak nyambug kalau ngobrol. Karena itu akhirnya saya meminta dia untuk mengajarkan bahasa isyarat kepada saya. Alphabet dan angka dalam bahasa isyarat telah saya kuasai, selebihnya saya menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah untuk mempertegas kalimat yang saya maksud.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting saya apabila berbicara sama Mba. (panggilan saya ke dia “Mba”)
1.      1.  Jangan ngomong Alay, disingkat, bahasa inggris dan kata yang tidak baku.
Kenapa gak boleh ngomong alay? Karena kata alay itu sering berubah disetiap zamannya dan yang mba pelajari hanya kata-kata wajar dalam sehari-hari bercakap.  Juga gak boleh disingkat, kecuali dia mengerti apa yang kita singkat. Tentu saja jika teman tuna rungu kita gak belajar bahasa inggris pasti dia tidak mengerti. Karena pelafalan dan tulisan bahasa inggris tidak sama. Juga harus bicara bahasa baku, gak bertele-tele.
Contoh dasar yang bisa diambil kata “Nyari” ketika saya bilang itu dia tidak mengerti. Setelah saya mengatakannya dalam bahasa isyarat dia baru tau kalau yang saya maksud adalah kata “Cari”.
2.    2.   Jangan terlalu cepet kalau ngomong.

Saking saya melihat Mba seperti orang normal biasa saya sering lupa kalau lagi ngobrol. Nyerocos kesana kemari tanpa jeda. Dan pada akhirnya dia bertanya, “ngomong apa?”. Haha. Itu lucu bagi saya, karena saya harus mengulang semua perkataan saya sendiri dengan pelan. Bukan karena menertawakannya.

Suatu kali saya iseng nanya sama mba, soalnya saya benar-benar gak tahu.  “Kalau saya lagi ngobrol sama yang lain mba ngerti gak?” dan dia jawab enggak. Dalam hati saya ngakak. Soalnya saya kalau ngombrol didepan dia benar-benar lupa kalau dia punya kekurangan. Dan ini menjadi pelajaran kedua saya.

3.     3.   Jangan memanggil atau menegur dia dari belakang

Peraturan ketiga ini wajib ditaati jika tidak siap-siap anda malu sendiri atau sakit hati karena dia gak noleh. Iyalah, selain dari alat pendengaran yang iya gunakan. Ia juga berkomunikasi dengan melihat gerak bibir dan ekspresi wajah si pembicara.

Karena terlihat sangat dekat sama mba, banyak orang yang mengira kalau saya juga tuna rungu. Bahkan keluarganya sendiri. Gak salah sih. Saya juga gak marah kalau disangka seperti itu. Malah keseringan ngakak kalau dengernya, serasa nipu orang.

Satu hal lagi. Ternyata, meskipun Mba mudah beradabtasi. Berperan seolah-olah tak punya kekurangan bila berada si samping saya, dalam hatinya juga ada rasa minder. Saya merasakan hal itu saat saya mengajak dia untuk masuk ke area kampus. Gak masuk sih sebenernya, Cuma suruh dia ngejemput didepan kampus. Oh ya, dia lihai pake motor loh dan dia yang mengajarkan saya berkendara dengan sepeda bermesin itu. Keren kan.

Kembali ke masalah kampus.  Yah, dia yang biasa jemput saya kalau kita mau main. Dan dia gak pernah mau diajak ke lingkungan pertemanan saya. Selama ini saya yang diajak dia kelingkungannya. Nah ini mungkin yang menjadi dasar asumsi teman-teman saya. Mengira saya jalan dengan laki-laki yang tak ingin mereka ketahui, padahal bukan. Dan saya tak ingin menjelaskan panjang lebar pada mereka yang hanya akan dijawab ohhh. Saya bukan artis yang perlu konferensi pers. Haha.

Itulah pengalaman saya selama ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman semua. =)

@Alfiyyah.

0 komentar:

Posting Komentar