Minggu, 19 Januari 2014

Kisah Mala dan Bu Rara

Hari ini terasa melelahkan. Minggu ini adalah pekan Ujian Akhir Semester. Anak-anak direpotkan dengan menjawab soal yang hanya satu soal per mata pelajaran. Kita para guru harus membuat, memeriksa, menilai dan merekap hasil ujian mereka yang jumlahnya ratusan. Sungguh melelahkan, belum lagi dengan pekerjaan rumah yang menumpuk minta diselesaikan. Resiko menjadi seorang ibu dan seorang guru. Tapi disinilah letak kenikmatannya, mendulang pahala dari kedua sisi.

Siang tadi aku menjadi seorang ibu bagi anak muridku, dan malam ini aku menjadi ibu untuk anakku sendiri. Mila namanya, malam ini katanya dia ingin bercerita padaku. Ada beberapa hal yang aku jadikan kewajiban yang harus dilakukan dirumah, salah satunya adalah mendengarkan Mila bercerita. Bermaksud supaya dia dekat denganku dan bisa terbuka denganku. Aku tak mau dia salah jalan.

Mengingat hal itu aku tersenyum sendiri. Siang tadi, saat di angkutan umum  aku membuka facebook di hape. Ada beberapa notification, tapi aku  langsung membuka notification yang menyebut nama Mila  Jamila (Nama anakku di facebook). Dia menulis diberandaku.

Ini katanya, “Mama, aku mau cerita. Nanti malam yah... gak boleh engga. Oke mamaku ciayang.. hehe”

“Oke :’) tapi belajar dulu yah,,, adekkan ulangan” Balasku.

“Sipp mama ciayang”

Dan setelah aku sampai rumah dia menyambutku. Sebuah pensil masih bertengger di sela daun kupingnya. Lalu dia mencium tanganku dan membawakan tasku.

“Mama janji yah, kan aku udah nulis di Wall mama.”
“Apa?” Elakku, pura-pura lupa.
“Ih, mamah nih... Aku kan bilang mau cerita.”
“Haha.”

Aku langsung kabur ke kamar. Meninggalkan dia yang cembetut. Tapi dia tau aku pasti tak keberatan dengan hal itu. Toh dia juga akan pasti cerita, kalaupun dia tak memberi tahu sebelumnya.

Menururutku itu lucu, karena baru satu minggu yang lalu aku mengizinkan dan mengajari bagaimana caranya berkelana di dunia facebook. Setelah berulang kali dia bertanya tentang hal itu dan sering menggunakan akunku. Akhirnya aku memperbolehkan dia punya akun sendiri. Dan minggu-minggu ini dia benar-benar demam facebook. Setiap hari yang ia bicarakan selalu mengenai facebook, begitu pula pertanyaanya. Meskipun begitu, aku tak  hilang pengawasan padanya.


Mila memasuki kamarku, memelukku yang sedang duduk di tempat tidur.

“Jadi mau cerita apa?” Aku memulai.

“Itu tuh mah, tau gak guru bahasa Indonesia Mila. Yang si ibu gendut itu. Yang pake kerudung. Mama udah tahu kan?”

“ Ya, ibu Rara. Mama tahu. Kenapa dia? Sakit?”

“Gak, dia  nyebelin banget mah... Masa, dia terus terusan milih si Annisa sih buat maju ke depan. Buat bacain cerita dan puisi. Aku kan sebenernya mau maju kedepan Ma, soalnya yang maju kedepan kelas itu dapet nilai tambahan. Kan lumayan.”

“Emang Ade gak unjuk tangan?”

“Ih, gak dipilih  kayak gitu mah. Kita harus ngumpulin karya tulis dulu, cerpen atau gak puisi terus bu Rara nanti yang pilih siapa yang boleh maju.”

“Kalo yang dipilih itu karyanya yang bagus?”

“Kata bu Rara sih ‘Karya yang berhak dibacakan adalah yang karya yang terbaik’ gitu katanya.”

“Terus kenapa kamu sebel ke bu Rara? Kan udah jelas kalo karya punya Annisa itu lebih bagus.”

“Nah, itu masalahnya mah. Karya mila gak bagus, tapi masa bu Rara gak ngasih kesempatan buat yang lain sih mah. Udah dua kali kayak gitu loh... gimana gak sebel coba.”

“ Oh...”

“Kok Cuma oh doang sih? Mama mulai nyebelin ih.” Dia manyun, persis papanya.

“Sebentar mama sedang mencari ide.” Aku tempelkan ujung jari ke dahi yang berkerut.

“ Gimana kalo ade menghipnotis bu Rara.”

“Hah? Emang bisa mah?” Dia terperangah dan aku menganggukan kepala serius.

“Bisa dong... Mau tau caranya?”

Kepala mila mengangguk-angguk, pandangannya serius melihatku.

“Tapi ade janji gak boleh kesel sama bu Rara dan harus bisa masuk peringkat ketiga besar.”

“Oke oke Mila janji. Gimana caranya mah?”

“Tapi kalo gak masuk tiga besar gimana?”

“Mila gak maen facebook seminggu.”

“Sebulan.”

“Iya deh, jadi gimana mah?”
“Haha” Aku tertawa melihat muka mila yang begitu ingin tahu. Terasa seperti diinterogasi mahluk lucu.

“Mamah bohong nih.” Dia mulai marah.

“Gak, serius. Gini caranya. Kalo kamu mau mengipnotis bu Rara, kamu harus mendengarkan apa yang bu Rara sampaikan di kelas. Banyak membaca buku. Kalo sudah kamu lakukan dua hal itu, ambil kertas dan balpoin. Kamu tulis sebuah puisi yang bagus, dan berikan ke bu Rara.”

“Ah,,, itu mah sama aja aku harus ngulang bikin tulisan kayak kemaren. Mana hipnotisnya.”

“Belum selesai tau. Sebelum Ade serahin puisinya, kamu harus baca mantera dulu. Gini mantranya ‘Tidurlah... tidurlah... ibu akan melihat cahaya yang gelap terus gelap terus gelap dan mulai tertidur’”

“Gimana kalo bu Rara gak tidur?”

“Kamu harus minta maaf!”

“Kok gitu?”

“Ya iyalah,, memangnya kamu mau ngapain? Hipnotis? Percayaan amat sih sama mamah. Haha.”

“Tuh kan... gak lucu tau.”

“Ciee... ada yang ngambek. Hehe maaf. Tapi intinya kamu harus belajar lebih banyak sayang... Kalahkan karyanya Annisa, supaya kamu bisa dipanggil sama bu Rara. Dan juga kamu  gak boleh putus asa terus bikin sampai bagus. Terus, kalau kamu gak suka bu Rara pilih-pilih murid, kamu jangan pilih-pilih karya. Karena Annisa karyanya bagus jadi kamu baca punya dia aja. Kamu harus baca punya temen-temen kamu yang lain, beri kesempatan mereka kalau catatan mereka itu tidak jelek. Tapi butuh bimbingan. Ngerti?”

“Ya, ya, ya.”

“Ya udah, kita tidur.”

Mila malah mengutak-ngatik hapenya.

“Ngapain lagi sih? Udah tidur!”

“Bentar mah, aku lagi ngebagiin jempol. Kan mamah yang ngajarin supaya gak boleh pilih-pilih.”

“Hadeuh....”

*end*

Cerita ini dikirim ke:  https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/640679625993932/

0 komentar:

Posting Komentar