Hari ini terasa
melelahkan. Minggu ini adalah pekan Ujian Akhir Semester. Anak-anak direpotkan
dengan menjawab soal yang hanya satu soal per mata pelajaran. Kita para guru
harus membuat, memeriksa, menilai dan merekap hasil ujian mereka yang jumlahnya
ratusan. Sungguh melelahkan, belum lagi dengan pekerjaan rumah yang menumpuk
minta diselesaikan. Resiko menjadi seorang ibu dan seorang guru. Tapi disinilah
letak kenikmatannya, mendulang pahala dari kedua sisi.
Siang tadi aku
menjadi seorang ibu bagi anak muridku, dan malam ini aku menjadi ibu untuk
anakku sendiri. Mila namanya, malam ini katanya dia ingin bercerita padaku. Ada
beberapa hal yang aku jadikan kewajiban yang harus dilakukan dirumah, salah
satunya adalah mendengarkan Mila bercerita. Bermaksud supaya dia dekat denganku
dan bisa terbuka denganku. Aku tak mau dia salah jalan.
Mengingat hal itu
aku tersenyum sendiri. Siang tadi, saat di angkutan umum aku membuka facebook di hape. Ada beberapa
notification, tapi aku langsung membuka notification
yang menyebut nama Mila Jamila (Nama
anakku di facebook). Dia menulis diberandaku.
Ini katanya,
“Mama, aku mau cerita. Nanti malam yah... gak boleh engga. Oke mamaku ciayang..
hehe”
“Oke :’) tapi
belajar dulu yah,,, adekkan ulangan” Balasku.
“Sipp mama ciayang”
Dan setelah aku
sampai rumah dia menyambutku. Sebuah pensil masih bertengger di sela daun
kupingnya. Lalu dia mencium tanganku dan membawakan tasku.
“Mama janji yah,
kan aku udah nulis di Wall mama.”
“Apa?” Elakku,
pura-pura lupa.
“Ih, mamah nih...
Aku kan bilang mau cerita.”
“Haha.”
Aku langsung
kabur ke kamar. Meninggalkan dia yang cembetut. Tapi dia tau aku pasti tak
keberatan dengan hal itu. Toh dia juga akan pasti cerita, kalaupun dia tak
memberi tahu sebelumnya.
Menururutku itu
lucu, karena baru satu minggu yang lalu aku mengizinkan dan mengajari bagaimana
caranya berkelana di dunia facebook. Setelah berulang kali dia bertanya tentang
hal itu dan sering menggunakan akunku. Akhirnya aku memperbolehkan dia punya
akun sendiri. Dan minggu-minggu ini dia benar-benar demam facebook. Setiap hari
yang ia bicarakan selalu mengenai facebook, begitu pula pertanyaanya. Meskipun
begitu, aku tak hilang pengawasan
padanya.
Mila memasuki
kamarku, memelukku yang sedang duduk di tempat tidur.
“Jadi mau cerita
apa?” Aku memulai.
“Itu tuh mah, tau
gak guru bahasa Indonesia Mila. Yang si ibu gendut itu. Yang pake kerudung.
Mama udah tahu kan?”
“ Ya, ibu Rara.
Mama tahu. Kenapa dia? Sakit?”
“Gak, dia nyebelin banget mah... Masa, dia
terus terusan milih si Annisa sih buat maju ke depan. Buat bacain cerita dan
puisi. Aku kan sebenernya mau maju kedepan Ma, soalnya yang maju kedepan kelas
itu dapet nilai tambahan. Kan lumayan.”
“Emang Ade gak
unjuk tangan?”
“Ih, gak dipilih kayak gitu mah. Kita harus ngumpulin karya
tulis dulu, cerpen atau gak puisi terus bu Rara nanti yang pilih siapa yang
boleh maju.”
“Kalo yang
dipilih itu karyanya yang bagus?”
“Kata bu Rara sih
‘Karya yang berhak dibacakan adalah yang karya yang terbaik’ gitu katanya.”
“Terus kenapa kamu
sebel ke bu Rara? Kan udah jelas kalo karya punya Annisa itu lebih bagus.”
“Nah, itu
masalahnya mah. Karya mila gak bagus, tapi masa bu Rara gak ngasih kesempatan
buat yang lain sih mah. Udah dua kali kayak gitu loh... gimana gak sebel coba.”
“ Oh...”
“Kok Cuma oh
doang sih? Mama mulai nyebelin ih.” Dia manyun, persis papanya.
“Sebentar mama
sedang mencari ide.” Aku tempelkan ujung jari ke dahi yang berkerut.
“ Gimana kalo ade
menghipnotis bu Rara.”
“Hah? Emang bisa
mah?” Dia terperangah dan aku menganggukan kepala serius.
“Bisa dong... Mau
tau caranya?”
Kepala mila
mengangguk-angguk, pandangannya serius melihatku.
“Tapi ade janji
gak boleh kesel sama bu Rara dan harus bisa masuk peringkat ketiga besar.”
“Oke oke Mila
janji. Gimana caranya mah?”
“Tapi kalo gak
masuk tiga besar gimana?”
“Mila gak maen
facebook seminggu.”
“Sebulan.”
“Iya deh, jadi
gimana mah?”
“Haha” Aku
tertawa melihat muka mila yang begitu ingin tahu. Terasa seperti diinterogasi
mahluk lucu.
“Mamah bohong
nih.” Dia mulai marah.
“Gak, serius.
Gini caranya. Kalo kamu mau mengipnotis bu Rara, kamu harus mendengarkan apa
yang bu Rara sampaikan di kelas. Banyak membaca buku. Kalo sudah kamu lakukan
dua hal itu, ambil kertas dan balpoin. Kamu tulis sebuah puisi yang bagus, dan
berikan ke bu Rara.”
“Ah,,, itu mah
sama aja aku harus ngulang bikin tulisan kayak kemaren. Mana hipnotisnya.”
“Belum selesai
tau. Sebelum Ade serahin puisinya, kamu harus baca mantera dulu. Gini mantranya
‘Tidurlah... tidurlah... ibu akan melihat cahaya yang gelap terus gelap terus
gelap dan mulai tertidur’”
“Gimana kalo bu
Rara gak tidur?”
“Kamu harus minta
maaf!”
“Kok gitu?”
“Ya iyalah,,
memangnya kamu mau ngapain? Hipnotis? Percayaan amat sih sama mamah. Haha.”
“Tuh kan... gak
lucu tau.”
“Ciee... ada yang
ngambek. Hehe maaf. Tapi intinya kamu harus belajar lebih banyak sayang...
Kalahkan karyanya Annisa, supaya kamu bisa dipanggil sama bu Rara. Dan juga
kamu gak boleh putus asa terus bikin
sampai bagus. Terus, kalau kamu gak suka bu Rara pilih-pilih murid, kamu jangan
pilih-pilih karya. Karena Annisa karyanya bagus jadi kamu baca punya dia aja.
Kamu harus baca punya temen-temen kamu yang lain, beri kesempatan mereka kalau
catatan mereka itu tidak jelek. Tapi butuh bimbingan. Ngerti?”
“Ya, ya, ya.”
“Ya udah, kita
tidur.”
Mila malah
mengutak-ngatik hapenya.
“Ngapain lagi
sih? Udah tidur!”
“Bentar mah, aku
lagi ngebagiin jempol. Kan mamah yang ngajarin supaya gak boleh pilih-pilih.”
“Hadeuh....”
*end*
Cerita ini dikirim ke: https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/640679625993932/
0 komentar:
Posting Komentar